Sabtu, 17 September 2016

WASPADA UNTUK WANITA



17 September 2016

WASPADA UNTUK WANITA

Kamis kemarin, Bu Herma tiba-tiba menegur saya
Bu Herma            : Bu Dian, Setiap hari bawa motor?
Dian                       : Iya bu, ada apa memangnya bu?
Bu Herma            : Hati-hati ya, sudah baca yang aku share di grup belum?
Dia                          : Belum bu
Bu Herma            : Aku kena begal motor.
Dian                       : Astagfirullah, kapan dan dimana bu?
Bu Herma            : Sore jam 4 an. Aku di ancem dari Puribeta sampe perempatan Ciledug

JLEB! Pas banget itu daerah rumah saya. Entah mengapa tiba-tiba saya merasa daerah tempat tinggal saya menjadi tempat yang rawan kejahatan. Entah sudah berapa kali daerah Puri Beta memang seolah menjadi markas tindak kejahatan. Sebelumnya pernah terjadi tawuran, lalu begal yang terjadi di dalam kompleks Puri Beta itu sendiri dan yang terakhir adalah peristiwa pembunuhan dipinggir jalan akibat penusukan. Maka pembangunan pos polisi dadakan pun sering dilakukan. Setelah peristiwa pembunuhan tersebut, polisi memang rutin berjaga. Namun setelah dirasa aman kini penjagaan di wilayah Puri Beta pun berkurang. Alhasil ini lah pengalaman Bu Herma.

Ketika Bu Herma sedang mengendari sepeda motornya, tiba-tiba ada dua laki-laki berboncengan mendekati Bu Herma sambil berkata “Bu!!! Berhenti gak? Cepatan minggir!!!”. Mungkin kalau sekali bisa dianggap bercanda namun dua laki-laki tersebut sampai berkali-kali mengancam Bu Herma “Bu!!!! Berhenti! Kalau tidak berhenti kalau tidak berhenti saya ikutin sampai ke rumah”.

Dan peristiwa kejar-kejaranpun terjadi sampai Bu Herma sudah lelah diancam, akhirnya membuka kaca helmnya dan berteriak meminta tolong “TOLLONNNGGGGGG...” berkali-kali. Namun herannya tak ada satu orangpun yang peduli, padahal cukup banyak pengendara motor lainnya yang mendengar. Dan Bu Herma masih tetap teriak sambil kejar-kejaran. Hingga akhirnya di depan mata Bu Herma terdapat kantor polisi dan meminta pertolongan disana walaupun dua laki-laki tersebut entah sudah kabur kemana.

Saya terbayang bagaimana ketakutannya Bu Herma saat itu karena saya juga pernah mengalami pengalaman yang sama. Jika bu Herma mengalaminya di siang hari saya justru di malam hari. Waktu yang tepat untuk melakukan tindak kejahatan. Bahkan sampai saat ini kedua orangtua saya tidak tahu saya pernah mengalami hal tersebut.

Kala itu saya pulang dari rumah Tikpo dan pulang menuju rumah melalui daerah Pesing yang berlanjut ke Jalan Panjang Kebon Jeruk. Saya pilih jalan itu dengan alasan rute tersebutlah yang paling ramai di banding rute lainnya. Saat itu memang cukup malam sekitar jam 9 malam. Tiba-tiba di daerah perempatan Kedoya ada pengendara yang bertanya arah ke saya, kemana arah Pondok Indah. Agak sedikit aneh juga, padahal di perempatan tersebut ada papan petunjuk arah yang sangat besar dan terdapat tulisan Pondok Indah juga.

Saat lampu menunjukan warna hijau saya mulai melanjutan perjalanan. Semua kendaraan yang ada dibelakang saya mulai mendahului saya. Namun saya tidak melihat orang yang bertanya tadi mendahului saya dan saya lihat melalui spion tidak ada kendaraan lain selain saya. Ketika sampai di perempatan Relasi Kebon Jeruk, saya satu-satunya pengendara yang berhenti. Lalu ada pengendara motor lain yang berboncengan mendahului saya dan berhenti didepan saya, karena memang sedang lampu merah. Kemudian ada satu mobil debelakang saya. Tiba-tiba laki-laki yang berhenti di depan saya (berboncengan) yang paling belakang mengalami kejang-kejang dan terjatuh di depan saya. Tidak ada yang melihat laki-laki tersebut kejang-kejang, mungkin yang di dalam mobil juga tidak melihat. Naluri saya langsung tergerak ingin menolong, namun tiba-tiba ada tindakan aneh dari laki-laki tersebut. Saat kejang lelaki tersebut ternyata masih bisa memegang motor depan saya dengan kuat. Ketika motor saya coba untuk parkirkan ternyata stang motor masih tetap lurus karena di tahan oleh lelaki kejang tersebut. Satu persatu motor dari belakang mulai berdatangan tanpa tahu kejadianya seperti apa.

Dan yang membuat saya syok. Pengendara yang membawa laki-laki kejang tersebut sontak marah besar ke saya “MBAK GIMANA SIH BAWA MOTORNYA!!!!”. Seolah saya telah menabrak motor tersebut hingga yang di bonceng terjatuh. Sontak seluruh pengendara motor yang berhenti karena lampu merah melihat ke arah saya. Entah mereka mendengar amarah orang tersebut atau terfokus pada laki-laki yang jatuh. Saat itu, saya rasa pertolongan Allah datang yaitu lampu berubah menjadi warna hijau. Sebagian orang mulai tidak peduli dengan kejadian tersebut dan tetap melanjutkan perjalanannya. Dan saya langsung paksa banting stang sehingga tangan orang yang kejang terhempas dan saya tancap gas tinggi. Di sepanjang jalan, tangan saya gemetaran antara melawan rasa takut dan menjaga keseimbangan berkendara. Makanya saya mengerti benar, bagaimana perasaan Bu Herma dalam kedaan ketakutan, teriak minta tolong dan di tambah dengan kondisi kejar-kejaran dengan pelaku kejahatan.

Satu pelajaran yang dapat saya ambil. Sekuat-kuatnya wanita, setangguh-tangguhnya wanita dan semandirinya wanita itu memang tidak baik berkendara sendirian apalagi pada malam hari. Akhirnya saya paham mengapa Rasullah itu melarang wanita berpergian tanpa mahramnya. Selain untuk menghindari fitnah dengan lingkungan sekitarnya ternyata juga untuk perlindungan dirinya sendiri. Karena pada dasarnya wanita itu lemah.

Beberapa hal yang dapat saya pahami.
Pertama, Saya paham, mengapa laki-laki itu selalu applause jika wanita itu terlihat mandiri. Namun di dalam hati mereka, sebenarnya justru takut jika kaum wanita itu kenapa-kenapa.
Kedua, Saya juga paham, mengapa teman laki-laki atau rekan kerja laki-laki baik muda ataupun tua selalu mengkhawatirkan saya sebagai perempuan yang suka pulang malam ataupun berjalan-jalan sendirian. Karena selama ini saya cenderung cuek dan tidak terbiasa dengan perhatian laki-laki, jadi suka menganggap perhatian mereka hanya sekedar angin lalu. Mungkin sikap ini yang membuat laki-laki merasa minder dengan saya. Serasa di cuekin. Hehhe ngelantur. OK balik lagi.

Saya jadi teringat setiap interview kerja, pasti menanyakan bagaimana saya menuju tempat interview. Dan mereka selalu berkata “Wahhh, beraninya???” dan itu yang berkata laki-laki. Walaupun kedengarannya seperti pujian tapi sebenarnya ungkapan kekhawatiran. Dan saya masih ingat bapak yang menginterview saya terakhir yaitu tempat kerja saya sekarang.

“Kesini naik motor???. Perempuan sekarang berani-berani ya... Guru sini juga ada yang rumah nya Depok naik motor. Ya ga pa pa. Yang penting tetap hati-hati.”

Saat itu saya memaknai kata hati-hati sebagai tindakan waspada terhadap kecelakaan di jalan namun ternyata kata hati-hati tersebut juga untuk waspada untuk tindak kriminal di jalan.

Rabu, 14 September 2016

SERABI


09 September 2016

Ada pepeatah jawa yang mengatakan :
“Witing Tresno Jalaran Soko Kuliner” eh Kulino.
Tapi benar juga perkataan Ustad Felix, munculnya cinta itu bukan karena terbiasa tapi karena sering makan bersama. Itu sebabnnya, mengapa untuk mengenal seseorang atau mempererat ukhuwah dan silahturahmi itu lebih baik dengan makan bersama. Kita kesampingkan tuh teknologi (HP) dengan cerita, diskusi, sharing, curhat atau mungkin debat bareng kawan-kawan yang jarang sekali atau tidak pernah dilakukan.

Hari ini untuk pertama kalinya GMHT membuat gebrakan baru dengan makan bersama. Bosen juga, kalau setiap kumpul selalu nyanyi-nyanyi terus.

Seperti biasa, setiap selesai siswa UTS atau UAS adalah waktunya kami untuk melepaskan segala kepenatan pekerjaan. Karena kalau sudah di sekolah jangankan untuk kumpul makan siang bersama, untuk ngobrol satu sama lain aja susah, maklumlah harus jaim (jaga image) di depan siswa. Harus jadi teladan, sosok, dan panutan yang baik untuk siswanya. Kalau ngobrol asal jeplak dan ternyata sedang diperhatikan siswa, itu rasanya gimana gitu ...

Ah~ ngomongin GMHT kalau di sekolah, inget kejadian tadi. Gimana ciutnya GMHT ngadepin kelas yang masyallah badungnya minta ampun. Ternyata kasus-kasus yang seperti di drama/ film tentang guru yang menyerah dengan kelas yang badung itu ada. Masih teringat saat saya pertama kali mengajar SMK, bukan satu tetapi semua kelas sulit untuk di atur. Setiap masuk kelas, mengajar itu sudah seperti ngomong sendiri. Ada yang terang-terangan dandan, makan, tidur, pukul-pukul meja, dan dorong-dorongan itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Konsentrasi belajar mereka hanya 5 menit di awal sisanya amarah saya dan puncak emosi saya pernah sampai saya pukul meja sampai tangan saya berdarah dan bengkak berhari-hari. Sakitnya bukan di tangan, tetapi di hati. Namun seiring dengan berjalannya waktu akhirnya saya bisa juga menjadi guru yang disegani siswa SMK. Sampai-sampai kalau saya diam sedikit saja, mereka sudah paham. Memang anak-anak seperti mereka hanya bisa di lawan dengan kekerasan.

Berbeda dengan di HT, untuk hal sederhana seperti mukul meja untuk menenangkan siswa di kelas atau membentak siswa untuk diam saja itu dilarang keras. Memang!!! berbeda sekolah beda juga cara mendidik. Makanya kami sebagai guru yang terlihat muda di mata mereka kadang suka di spelein.

Jadi ceritanya begini. Dari semua angkatan, angkatan terparah itu kelas X dan dedengkotnya itu ada di X IPS 1. Pernah saya sekali mengawas di X IPS 1, bayangkan?! Yang namanya UTS itu biasanya tenang diawal membaca soal, baru di menit-menit terakhir sibuk mencari contekan. Lha ini??? Baru 10 menit, bener-bener tidak ada suasana UTS-UTS nya. Waktu UTS serasa waktu istirahat, yang ada saya marah-marah tiap menit untuk menenangkan mereka. UTS baru berjalan 30 menit, saya langsung WhatsApp panitia UTS “Ngawas di X IPS 1 musibah banget, saya give up ...ga kuat”. Dan temen-teman yang lain responnya, ada yang menertawakan dan ada juga yang menguatkan “Sabar ya bu 1 jam lagi” rasanya pengen nangis saya.

Nah, hari terakhir mengawas dan pelajaran terakhir itu ceritanya jam mengawas untuk wali kelas. Saya bersyukur dong, tidak perlu mengawas dan bisa bersantai-santai di ruang guru karena saya bukan wali kelas. Ternyata eh ternyata ada beberapa wali kelas yang tidak hadir. Otomatis guru-guru yang sedang mengganggur akan dipekerjakan. Saya reflek aja lihat kelas mana yang tidak ada wali kelasnya. Dan ternyata kelas X IPS, haduhhhh saya langsung pura-pura sibuk mengoreksi ulangan.
Bu Bety                                : “Bu Dian, mau ngawas dimana?”
Dian                                      : “Jangan saya bu, Rivai aja. Dia mah siap siaga”
Bu Bety                                : “Pai... Pai... sini-sini, ayo ngawas”
Pai                                        : “Ini Juni aja bu”
Juni                                       : “Jangan saya bu, baru keluar kelas”
Bu Bety                                : “Sudah sini, kamu aja Pai. Kasian Juni belum istirahat”
Dengan berat hati Rifai mengakat langkahnya. Dalam hati (Dian, Juni, Dodi, Cindy) “YES MENANG”.

Tiba-tiba, jeng jeng jeng. Wali kelas X IPS 1 muncul.
Bu Ema                 : “Hei kamu, ngawas dong di X IPS 1” menunjuk ke saya.
Dian                       : “Sudah bu, saya cukup sekali aja di X IPS 1”
Entah suasana tiba-tiba menjadi hening. Si Dodi nunduk sibuk main HP, Juni sibuk ngoreksi, Bu Retno sibuk ngoreksi. Dan bu ema masih berusaha.
Bu Ema                 : “Kamu deh yang ngawas, kamu juga boleh, atau kamu”
Juni/Dodi               : “Terimakasih bu”
Rifai                       : “Saya ngawas di X IPS 2 aja bu” Langsung beneran cabut si Pai n Cindy.
Bu Ema                 : “Yah ga ada yang mau, ya udah deh saya aja yang ngawas...”
Juni/Dodi/Dian      : “Semangat ibu”

Sumpah kalau liat di CCTV, mungkin keliatan ekspresi ciutnya GMHT. Jadi lucu.

Jadi ngelantur. Tadi lagi ngomongin kuliner GMHT ya...

Seperti biasa, walau kali ini tidak dalam formasi lengkap tapi mission harus jalan yaitu Zia, Seno, Pai, Eni dan saya. Awalnya kami ingin nonton WARKOP tapi si Zia sudah di tunggu suaminya di rumah, soalnya kalau nonton paling tidak kami baru selesai jam 4an kasian suaminya kalau menunggu di rumah terlalu lama. Alhasil kami putuskan untuk kulineran serabi bandung di sekitar wilayah UHAMKA LIMAU.

Sebelum memesan kami sudah membuat perjanjian yaitu kami tidak boleh memesan menu yang sama agar bisa icip-icip. Diawali dengan pilihan saya yang jatuh hati dengan serabi toping coklat plus keju melted, hemmm penasaran dengan keju meltednya. Lalu Zia si pencinta rasa asin memilih serabi dengan tobingg bolonaise plus dagingnya. Dan Seno memilih serabi campur oreo dengan dengan satu skup ice cream. Sudah hanya tiga serabi itu yang kami pesan. Sisanya agak sedikit menyimpang yaitu Eni memesan banana split. Itu sejenis pisang dengan toping 3 macam es krim dengan 3 varian rasa dan yang paling atas stroberi yang baunya masyallah seger bener, rasanya uda pengen saya caplok. Seger... Nah!!! Kalo Pai lebih menyimpang lagi. Dia justru milih makanan berat padahal sebelumnya di sekolah kami sudah makan berat. Ampun dah! Perut laki-laki memang berbeda ya? Dan dengan lucunya yang lain juga tergiur makanan berat. Si Seno nambah nasi goreng Pataya dan Bu Zia spageti. Subhanallah... dasyat dah GMHT!

Satu persatu pesanan mulai berdatangan. Entah bagaimana ceritanya, menu yang berdatangan itu menu-menu yang mudah mencair seperti serabi toping eskrimnya seno, banana spilnya bu eni dan minuman yang mudah mencair. Ah~ tapi tetap kita sudah buat perjanjian ‘tidak boleh dimakan sebelum semua menunya datang seluruhnya’ dengan tujuan jahat kami untuk manas-manasin kawan-kawan yang tidak ikut. Hahahahha #evil. Semenit, dua menit, tiga menit, sepuluh menit masih tahan tapi begitu melihat es yang mulai mencair, runtuh sudah pertahanan itu. Serbuuuuu.....

Udah tuh!!! Itu makanan siapa, ga peduli. Yang penting musti coba semua. Kurang, nambah, kurang, nambah, kurang, nambah. Dan inilah saat-saat yang paling mendebarkan, tagihan bill. Tetoret-toret. THE END.
 
Serabi dengan coklat dan keju melted. Agak sedikit kecewa sih. Katanya kejunya melted tapi ini ga ada melted-meltednya.

Serabi dengan saus bolonaise (norak deh gw, cara nulisnya)
Serabi dengan oreo plus ice cream
 Ini nih, banana split. Stroberinya itu loh... yang wanginya hemmmmmm
Fuyunghai... lebih kayak bakwan. Cuma isinya wortel n kol. NO SEAFOOD!!! Ga papalah kalo makan bareng-bareng.

Cuma ini aja yang sempet ke poto, sisanya uda kelahap duluan.



Sampai sini saya masih bingung mau kasih judul apa.

Sabtu, 06 Agustus 2016

BAPER (BELAJAR MENGALIHKAN PERASAAN)



06 Agustus 2016.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan
“Kadang, seseorang bertemu bukan untuk saling memiliki namun untuk memberikan pelajaran”

Bagi saya, bukan karena kesalahan yang pernah ia lakukan, namun lebih ke arah nasihat yang pernah ia berikan.

Dulu, ada yang pernah mengatakan :
“mungkin memang sudah saatnya di beri pekerjaan banyak. Mungkin juga nanti ada saatnya tidak diberi pekerjaan sama sekali”. 
Ya, kalimat yang selalu saya ingat saat menjalani segala permasalahan pekerjaan. Masih berbayang bagaimana sulitnya ketika pertama kali berkerja. Sudah totalitas namun hak tak tertunaikan. Hingga pada akhirnya memutuskan untuk mengakhirnya dengan meninggalkan hak yang pernah ada. Berdiam diri dirumah tanpa menghasilkan apa-apa. Khawatir, sedih dan takut mengecewakan orangtua yang sudah berjuang menyekolahkan anaknya pun semuanya berkecamuk didada. Hingga akhirnya pada waktu itu saya mendapat pekerjaan walau hanya dalam rentan seminggu. Berangkat jam 5 pulang jam 10 malam hanya untuk gaji yang tak seberapa dan lokasi yang luar biasa, Ciledug - Ancol. Kata-katanya selalu mengingatkan saya untuk tidak mengeluh dan menikmati hidup. Hari ini, mungkin saya masih di beri kesempatan untuk beramal sholeh jadi lakukanlah hal yang terbaik sebisa mungkin apa yang saya bisa lakukan. Jangan memikirkan apa yang akan di dapatkan tapi pikirkanlah apa yang bisa dilakukan, karena rezeki akan mengiringi dimana amal shaleh itu berada. Dan ingat, ketika mulai lelah menjalani kehidupan yang dijalani, ingatlah diluar sana masih banyak orang yang menginginkan dengan kehidupan yang sedang kita jalani. Terimakasih sudah mengingatkan saya untuk selalu bersyukur.

Dulu, ada juga yang mengatakan 
“Karena tidak menghubungi, termasuk memutus silahturahmi?”. 
Sebuah pertanyaan yang tak pernah saya ketahui jawabanya. Bagi saya masa lalu adalah sesuatu yang sangat ingin saya lupakan. Terlalu banyak pengalaman yang menyakitkan. Entah karena kesalahan, aib, egositas, bahkan sampai sakit hati yang pernah tertinggalpun ingin rasanya saya kubur dalam-dalam dan menghilang bak di telan bumi. Namun sekuat apapun usahanya saya untuk memutusnya, jika Allah masih menakdirkan bersaudara maka Allah akan pertemukan. Saya masih ingat bagaimana bencinya saya dengan salah satu teman saya. Saking bencinya, saya sampai memohon kepada teman dekat saya agar tidak memberikan no HP saya kepada dirinya bahkan segala media sosial yang berhubungan dengan dirinyapun saya block. Namun Allah berkehendak lain, sekeras apapun saya menghindarinya. Allah masih saja mempertemukan saya dengan dirinya. Ya setidaknya setahun sekali pasti bertemu. Hari ini saya belajar, tidak saling berkomunikasi selama setahun dua tahun bahkan berpuluh-puluh tahun bukanlah suatu alasan memutus silahturahmi. Jika Allah berkehendak di tambah kita masih mengusahakannya, insyallah jalan ceritanya jauh lebih indah. By the way hari ini abis di culik sama salah satu rekan guru senior. Beliau meminta saya menemani salah satu teman kuliahnya yang sudah menghilang sama sekali semenjak lulus kuliah dan apa yang beliau-beliau bicarakan? CUCU!!! Bisa dibayangkan berapa lama mereka berpisah bahkan ketika pertama kali membuka pintu beliau sama sekali tidak mengenali siapa tamu yang berkunjung dan hingga kami pulang beliau terasa berat melepas kami untuk meninggalkan rumahnya. Dan beliau mengucapkan sangat berterima kasih sudah mau bersilahturahmi. Ah~ mengingatkan saya dengan teman-teman saya. Setelah ‘dia’ pernah bertanya seperti itu, saya mencoba membuka hati untuk berkomunikasi dengan beberapa teman-teman saya. Sedikit ada keraguan. Baik itu gengsi ataupun kekhawatiran takut akan tidak di kenali. Namun semunya sirna dengan rasa bahagia yang mereka ungkapkan karena saya menghubungi mereka. Terimakasih telah mengajarkan saya pentingnya silahturahmi.

Selasa, 02 Agustus 2016

Baper

02 Agustus 2016

Tuhan tolong berikan lah isyarat semoga dia jawaban atas doaku
-Mika Tambayong, Cinta Pertama-

Minggu, 24 Juli 2016

KELUARGA BARU



23 Juli 2016

KELUARGA BARU

Ahlan wa sahlan ...
Masih teringat bagaimana setahun lalu saya mulai bergabung dalam keluarga besar SMA Hang Tuah 1 Jakarta. Bahkan masih terbayang saat pertama kali memperkenalkan diri dan saat itu pula pembully-an pertama saya. heheheheh.

“Perkenalkan nama saya Dian Wahyu Lestari. Insyallah setahun kedepan saya di amanahkan menjadi guru fisika”
“Nama panggilannya siapa?” celetuk salah satu guru.
“Ah iya pak. Saya biasa di panggil ibu Dian”
“halahhhh.... kok masih muda di panggil ibu?!!!. Belum merit kan?
HAHAHAHHAHAHAHA
@#@$%!@#%^ garuk-garuk kepala

Layaknya guru baru yang seharusnya di bimbing tentang wawasan wiyatamandala sekolah eh saya malah justru di kenalkan dengan semua guru dan karyawan yang masih single. Hehehehe cuma bisa senyum tak bermakna. Bingung! Harus bagaimana menanggapinya.

Ya itu setahun yang lalu. Dan kini alhamdulillah tambah 3 guru baru lagi. Ahlan wa sahlan...

Di dalam keluarga besar SMA Hang Tuah ada satu keluarga kecil lagi yaitu keluarga GMHT1 singkatan dari Guru Muda Hang Tuah 1. Entah siapa yang pertama kali memberi nama itu, walaupun agak kedengarannya sedikit allay tapi kalau di singkat cukup keren juga. GMHT1.

GMHT1 adalah sekumpulan guru-guru yang lahir ditahun 90-an. Setahun yang lalu bagi saya mereka hanyalah sekedar rekan kerja, yang bertemu disekolah untuk mewujudkan cita-cita sekolah. Di tambah lagi intensitas bertemu di sekolah cukup jarang. Selain hari mengajar saya yang terbatas, juga kondisi ruangan terpisah. Saya berada di ruang guru atas dan sebagian mereka berada diruang guru bawah. Jadi bisa di bayangkan bagaimana kurang pergaulan saya dengan mereka. Karena itu satu-satunya teman GMHT1 saya hanyalah bu enny. Sosok yang sudah seperti kembaran saya, memiliki masa lalu yang sama dan cita-cita yang sama.

Sampai pada akhirnya kami GMHT1 mengadakan perkumpulan kecil-kecilan dalam rangka syukuran ulang tahun si Seno lebih tepatnya maksa ditraktir ma Seno hehehhehe. Itu pertama kalinya saya bergabung full dengan GMHT1, mengenal GMHT, berbicara dan bercanda dengan GMHT. Dan sepertinya mereka agak sedikit kaget dengan saya. Mungkin di pandangan mereka saya adalah wanita berkerudung agak panjang dengan kepribadian tertutup, pendiam dan pemalu. Pengecualian untuk Bu Enny ya, kalau dia sedikit tahu tentagn saya, karena kebetulan kami satu ruangan. Namun ternyata saya ...

“Saat pertama kali karokean saya kaget ngeliat Bu Dian. Diem-diem ternyata .... hahahha” itulah komentar mereka.

Hahahahaha saya kalau sudah megang mic suka lose control. Maklum bawaan main dengan MAGENTA, kalau koarokean gilanya suka kumat. Makanya terbawa saat main dengan GMHT (padahal menurut saya masih wajar, kalau bersama Magenta beuhhhh ... tidak bisa dibayangkanlah). Ada satu yang membuat tidak wajar, iya saya baru sadar di GMHT ada ikhwannya. Hahahahaha makanya sebagian besar yang kaget adalah kaum mereka. Tapi saya sedikit bersyukur semenjak itu mereka jadi cukup terbuka dengan saya.

Kini bagi saya mereka bukan hanya sekedar rekan kerja yang berkutat dengan pekerjaan. Namun kini bagi saya mereka adalah keluarga baru yang bisa kerjasama dan bermain bersama.




#CatatanHatiSeorangGuru4