Minggu, 06 November 2016

MASA DEPAN SEKOLAH



05 November 2016
MASA DEPAN SEKOLAH

Sudah sekitar 4 bulan kami tidak pernah makan siang di luar sekolah. Padahal setahun sebelumnnya hampir setiap Jumat siang kami selalu keluar sekolah hanya untuk makan siang dengan menu yang itu-itu saja, ayam bakar. Bukan masalah makanannya tetapi lebih ke arah intensitas kami untuk berkumpul bersama. Selain itu semenjak kantin sudah di renovasi menjadi jauh lebih baik dan sangat baik menurut saya, membuat kami cukup betah dengan suasana dan menu makanan bervariasi yang ada di kantin sekolah.

Jumat kemarin, seperti biasa menu pesanan kami ayam bakar dengan teh manis kecuali saya. Saya tidak terlalu nafsu untuk makan siang, entahlah kalau memang sedang dalam kondisi tekanan berat. Apapun yang enak dan lezat menjadi tak ada satupun yang berselera. Namun berkumpul dengan mereka, yang membuat saya bersemangat keluar sekolah untuk bersama mereka. Tidak ada yang spesial saat itu selain topik obrolan kami.

 “MASA DEPAN SEKOLAH”

Diawali dengan celetukan saya.
Dian       : Kalian tau tak? Gw tuh suka sedih kalau sudah jam 06.40 ...
A             : Emangnya kenapa?
Dian       : Abis, kalau sudah jam segitu kalian kan masuk kelas. Gw suka sendirian di ruang guru. Dulu sih masih ada temenya satu orang, Mom Hana. Paling enggak, ada yang bisa di ajak ngobrol. Tapi sekarang sudah jadi wali kelas... Belom lagi, kalau kalian ada tugas wali kelas. Bener-bener terasa sendirian. Makanya kalau ada jam wali kelas gw suka kelayapan, masuk-masuk kelas kalian. Bodo amat dah! Dimaki-maki siswa.
B             : Tenang bu, insyallah tahun depan ibu wali kelas.
Dian       : Enggak kok, gw ga berharap jadi wali kelas. Amanahnya besar, apalagi sekolah kayak gini. Cukup kalian aja, kalian kan kompeten banget. Lagipula uda pas banget kan gurunya.
C             : Enggak!!! Justru taun depan bakal kekurangan wali kelas. Soalnya bakal banyak yang resign bu. Jadi mau ga mau ibu bakal jadi wali kelas.
Dian       : Hegh???? Mang iya? Jangan gitu dong, jangan pada resign.

Entah sudah sejak kapan kabar itu beredar, yang jelas saya baru mengetahuinya jumat itu. Ya, tersiar kabar beberapa punggawa sekolah akan resign besar-besaran. Ada yang akan di angkat menjadi PNS adapula yang ditawarkan menjadi dekan. Sebenarnya sangat senang mendapat kabar Bapak/Ibu guru senior mendapatkan suatu hal yang lebih baik. Hanya saja, rasanya sedih andai saja mereka tidak berada disini lagi. Siapa yang akan membimbing kami? Siapa yang akan mengajari kami lagi?

Jangankan guru senior, baru kemarin kehilangan satu teman yang resign karena diangkat menjadi  dosen di UNS itu sedihnya minta ampun. Apalagi harus kehilangan guru senior yang dalam jumlah besar? Jujur, sebenarnya di lubuk hati terkecil masih mengharap mereka tetap ada disini. Bersama-sama membangun, berjuang, dan memperbaiki sekolah ini. Dan hati selalu menepis dengan kenyataan itu, selalu berharap semoga masih berita burung.

Hingga selesai makan, salah satu wakil kepala sekolah menegur saya

Pak H     : Bu Dian, taun depan jadi guru kebaharian ya?
Dian       : Ya Allah Pak. Masih belum nyerah aja ngerayu saya, hahahahaha. Nanti kalau saya ngajar kebaharian, yang ngejar Fisika siapa?
Pak H     : Ya Bu Dian juga. Pokoknya kebaharian di pegang guru Fisika semua dah, ma Fulki juga.
Dian       : Hehehehehe. Saya pikirin lagi pak.
Pak H     : Kalau ngajar sejarah bisa tak?
Dian       : Waduh pak, makin melenceng aja saya...
Pak H     : HAHAHAHAHAH
Yah dia ketawa.

Tu kan berarti bener. Bapak itu sedang mencari guru pengganti dirinya karena beliau sendiri adalah guru sejarah. Sebenrnya masih tidak rela kalau Pak H dan lainya harus resign. T_T. Rasanya masih baru mengenal mereka. Soalnya tahun lalu kan ruang kerja saya pisah dengan mereka. Jadi tidak pernah ngobrol dengan mereka. Dan sekarang ketika semua ruang kerja sudah bergabung menjadi satu, justru satu persatu mulai meninggalkan.

Satu hal yang saya suka dari sekolah ini yaitu guru-guru seniornya selalu siqoh terhadap guru-guru yang masih muda. Karena biasanya guru senior itu takut sekolahnya kenapa-kenapa kalau di pegang oleh orang baru. Tapi semenjak kepengurusan baru, kini guru muda mulai didayagunakan. Di mulai dengan Ujian Semester Ganjil ini, hampir seluruh panitia ujian adalah guru muda. Sebenarnya sih seneng banget, ketika kami mulai didayagunakan kami akan memulai belajar hal baru. Tapi seolah terlihat kode keras, supaya kami siap di tinggalkan mereka.

Bicara siqoh. Baru kali ini saya menemukan tempat, dimana personilnya open minded dan memberikan kepercayaan berlebih terhadap orang baru. Karena saya dan rekan-rekan saya, dahulu pernah merasakan bagaimana rasanya mengalami krisis kepercayaan ketika ada di BEMJ. Sampai-sampai harus ada intel yang harus terus mengawasi kami.

Ya, tidak ada tempat yang memberi pelajaran lebih, selain di sini. Walaupun orang yang di dalamnya banyak yang merasa kurang berkembang berada disini. Tapi justru yang saya lihat, orang-orang yang ada disana adalah orang-orang yang berkompeten.

Dan yang unik, walaupun sekolah ini binaanya TNI-AL tapi serasa sekolah alliyah. Guru agama kuat, rohisnya pun kuat. Bahkan ketua rohis se Jakarta Selatan pun ada disini, ya di sini, di sekolah swasta yang katanya tidak ada apa-apanya.

Jumat itu kami banyak merenung.
1.       Apakah kami bisa? Menjaga ruhiyah mereka
2.       Apakah kami bisa? Merubah akhlak buruk mereka
3.       Apakah kami bisa? Menangani kasus mereka
4.       Apakah kami bisa? Menyakini orangtua mereka
5.       Dan apakah kami bisa? Mengantarkan ke mimpi-mimpi mereka

Bisa, bisa, pasti bisa. Ya sudah saatnya, yang muda yang berprestasi, yang muda yang berusaha dan yang muda yang berkarya. Semangat GMHT kita pasti bisa. Apapun yang terjadi di tahun depan, semoga memberi pelajaran yang berbaik untuk kita.
Haaaa.... masih ga mau kalau di tinggalin.



#CatatanHatiSeorangGuru8
 

Sabtu, 05 November 2016

BELAJAR



02 November 2016

X             : Bu Dian, gimana sih caranya nyuruh anak supaya aktif kegiatan sekolah? Perasaan kalo ada lomba-lomba anaknya Bu Dian ikut mulu dah. Kemaren lomba senam ikut, lomba nari ikut, trus futsal juga ikut.
Dian       : Ah, mang iya bu?
X             : iya, belom lagi kalo masalah bayaran. Kayaknya anaknya Bu Dian lancar-lancar aja. Kita mah empot-empotan nagihin ke anak.
Dian       : Kebetulan aja bu, saya dapet anak yang seperti itu.
X             : enggak ah! Taun lalu aja buktinya anaknya Bu Dian yang uang kasnya paling gede.
Dian       : Hahahahah. Kalo kata orang, tingkah laku anak itu cerminan wali kelasnya bu. Hehhehehe.
Sambil becanda, karena kalau saya nyakal terus ga akan selese-selese.

Kalau di pikir-pikir, saya juga baru sadar ternyata anak saya cukup aktif juga kalau di sekolah. Jujur sebenarnya saya sendiri tidak terlalu memperhatikan anak asuh saya (X-AP-5) karena intensitas saya bertemu mereka hanya dua kali seminggu dan itupun memang hanya saya fokuskan untuk belajar matematika. Jangankan untuk menyuruh anak aktif sekolah, untuk memotivasi siswa saja saya tidak pernah.

Ada pepatah yang bilang “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, mungkin itulah yang mereka pelajari dari saya. Saya tidak mengatakan diri saya baik. Saya hanya berusaha menjadi fasilitator untuk anak-anak. Kalau mereka bercerita, dengarkan. Kalau mereka butuh sesuatu, dibantu. Kalau mereka takut, dampingi. Dan kalau mereka bermasalah, selesaikan. Intinya jangan samapi anak merasa asing dan segan dengan keberadaan kita. Sebenarnya mudah kok untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka. Caranya :

“JANGAN MENGUNGKAPKAN KESALAHAN ANAK DI DEPAN UMUM”

Kadang kita terlalu mengebu-gebu untuk merubah anak lebih baik, sampai-sampai ketika mereka melakukan kesalahan kita langsung mencegahnya agar ia tidak melakukan kesalahan yang sama dan berulang. Memang harusnya seperti itu, agar anak tidak keblablasan dalam suatu masalah. Tapi perlu di ingat, kadang kita lose control. Kadang suka langsung main tangan, langsung memarahi atau bahkan menjadikan mereka kambing hitam untuk di permalukan di muka umum. Karena itulah, awal anak akan menjadi kurang percaya diri. Sehingga untuk mengikuti apapun, mereka akan malu dengan guru mereka.

Saya belajar dari ibu saya. Dulu saya pikir memahami orangtua yang sibuk bekerja adalah suatu bentuk pengertian anak terhadap pengorbanan orangtua untuk anaknya. Namun lama kelamaan saya tersadar, ternyata hak saya tersita dengan kesibukan mereka. Berbagai pengajian saya ikuti, berbagai seminar parenting saya jalani. Namun ilmu yang saya dapat justru tidak membuat saya semakin cinta kepada kedua orangtua saya namun malah kebalikannya, terlebih ketika saya sedang konflik dengannya. Saya terlalu marah pada ibu bahkan mungkin kedua orangtuaku. Saya marah, saya tidak pernah mendapatkan hak seorang anak yang saya pelajari di seminar atau pengajian yang saya jalani dari kedua orangtua saya.

Tapi setiap saya marah kepada orangtua. Saya selalu ingat bagaimana orangtua saya melindungi saya. Andaikata ibu saya membongkar aib saya di depan umum ataupun mengbongkar aib saya ketika saya sendiri. Mungkin rasa benci itu akan mengakar daging di dalam dalam diri saya.

Sejak SD saya dilatih oleh ibu saya untuk hidup berkecukupan. Ibu tidak akan memberi uang jajan lebih walaupun saya menangis meraung-raung. Hingga dimata saya, ibu adalah orang jahat yang pernah ada.  Bagaimana mungkin uang yang saya dapatkan, yang sebenarnya hanya cukup untuk jajan di sekolah. Harus saya bagi-bagi untuk jajan di rumah dan untuk jajan di TPA (Taman Pengajian Al-quran). Karena saya tahu meminta uang ke orangtua adalah perbuatan sia-sia, akhirnya saya menggunakan uang bayaran sekolah untuk memenuhi kebutuhan saya. Hingga ketika lulus SD saya bermasalah dengan ijasah terkait dengan bayaran sekolah. Saat mengambil rapot, saya tidak berani menemani orangtua saya menghadapi wali kelas karena saya tahu, saya telah melakukan kesalahan. Pulang dari pengambilan rapot, ibu sama sekali tidak menyinggung masalah bayaran saya yang tertunggak. Entahlah, apa yang terjadi antara ibu saya dan wali kelas saya.

Begitu masuk SMP, hal tersebut terulang kembali. Penyakit saya kambuh yaitu menggunakan uang SPP saya untuk jajan. Bahkan saya terancam tidak bisa mengikuti Ujian Semester saat kelas 7. Kali ini saya tidak bisa menghindari. Kalau dulu saya bisa menghindar untuk tidak menemani orangtua saya ke sekolah, tapi kalau ini saya tidak mungkin menghindar. Mau tidak mau saya harus menemani orangtua saya ke sekolah, hanya saja saya tidak ke ruang Tata Usaha.

Bayangan yang masih saya ingat hingga hari ini yaitu ketika ibu membawakan kartu ujian keruangan saya dan berkata “Ini kartu ujiannya, jawab ulangannya yang betul ya”. Tak ada kalimat yang keluar setelah itu. Bahkan sampai hari ini, ibu tidak pernah mengungkit kesalahan yang saya lakukan hingga terulang dua kali.

Semenjak itu saya tersadar, orang yang saya pikir adalah orang terjahat dan yang terpelit yang pernah ada. Justru orang yang mengajarkan akhlak mulya yang pernah ada. Ia tidak marah sudah saya bohongi dan ia juga tidak pernah menceritakan aib saya ke oranglain ataupun berusaha mengklarifikasi ke diri saya sendiri. Mungkin ibu tahu, ketika ibu berusaha mencari kebenaran jutru akan mempengaruhi mental saya. Saat itu saya menjadi pribadi malu semalunya kepada orangtua saya dan saya ber azzam untuk tidak mengulangi lagi.

Ada pelajaran yang bisa saya ambil dari sikap orangtua dan guru-guru saya. Mengajarkan anak untuk jujur tidak harus dengan meengkambing hitamkan mereka dengan memaksa untuk mengakui kesalahannya. Cukup dengan mengetahui, memaklumi dan memaafkan. Terima kasih untuk ibu ku tersayang dan terimakasih untuk guru-guruku yang tak pernah memojokanku. Dari kalian aku belajar menjadi guru yang baik untuk anak-anaku.



#CatatanHatiSeorangGuru7
 

Senin, 31 Oktober 2016

CUKUP SEKALI SAJA



CUKUP SEKALI SAJA

Minggu, 30 Oktober 2016

Manusia itu hanya bisa merencanakan, sisanya Allah yang menentukan. Kalau di ingat rasanya memang lucu. Sabtu kemarin ada 4 teman yang mengajak Car Free Day (CFD) an untuk hari Minggu. Hingga sampai membuat saya kebingungan untuk memutuskan jalan dengan siapa. Namun akhirnya, saya putuskan untuk jalan bersama Tikpo dan Fani. Hingga H-9 jam, Allah merencanakan lain. Tiba-tiba mendapat kabar, Fani mengalami kecelakaan motor. Walau ia mengatakan baik-baik saja dan tetap ingin melaksanakan CFD an, tapi cukup membuat saya dan Tikpo  khawatir jika terlalu di paksakan.

Hingga H-2 jam, rencana itu semakin kuat untuk gagal. Ternyata kondisi Fani masih sakit dan Tikpo masih belum tidur sampai pukul 3 pagi. OK FIX BATAL. Kecewa? Tidak juga. Saya coba hubungi teman-teman yang mengajak saya CFD-an sebelumnya, dan ternyata semuanya sudah memiliki rencananya masing-masing. Heheheh. Mungkin ini memang rejeki saya untuk istirahat di rumah, berhubung sabtu-nya saya pulang terlalu larut malam dan memang membutuhkan istirahat.

Lucu memang lucu, dari awalnya yang banyak pilihan tiba-tiba sudah tidak ada pilihan.

Dan yang membuat semakin lucu adalah ketika kami sudah memutuskan untuk istirahat di rumah. Tiba-tiba si Fani mengajak untuk menghadiri kajian di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia. Tempat biasanya kami parkir motor untuk CFD-an. Antara nyesek ga nyesek kami ternyata tetap ke sini juga. Ya, karena Salim A. Fillah lah kami kesana.

Dan yang semakin lucu lagi, selesai menghadiri kajian tanpa pikir panjang kami cabut ke Bogor hanya untuk berdiri di kereta selama 3 jam.

Nyesel se nyesel nyeselnya. Kapok se kapok kapoknya. Ga mau ke Bogor lagi. Bayangin aja, baru sampe Bogor cuma numpang makan soto mie lalu jajan gemblong, PULANG.

Ga mau ke Bogor lagi. Jadi anak ilang, ujan-ujanan, baju lepek, musti berdesak-desakan pula. Aaaaaaa tidakkkkkkkkkk. Ternyata Bogor tak seindah yang di bayangkan, KALO PERGI TANPA PERENCANAAN. Sebenernya saya sih tak ada masalah, tapi ga tega ma Fani. Uda sakit, niatnya tidak CFD-an untuk istirahat. Ini malah saya ajak untuk sengsara. Maaf ya fan, dwL ga bakal nakal lagi deh. JANJI.

Yang membuat tidak nyaman itu, perjalanannya. Selain kami harus berdiri, kami juga harus melihat pemandangan yang tidak menyenangkan. Pusing saya kalau harus melihat orang emosi lalu berbicara kasar di tempat umum. Padahal situasi sempit (berdesak-desakan), bisa-bisanya mereka bertengkar. Dan yang paling menyebalkan itu adalah ketika sekuriti laki-laki mulai berteriak-teriak untuk mengusir penumpang pria yang masuk ke gerbong khusus wanita.

Saya paham maksud baik sekuriti tersebut untuk menindak tegas penumpang pria yang masuk gerbong wanita untuk menjaga kenyamanan wanita. Tapi kalau pada akhirnya sekuriti laki-laki tersebut meluapkan emosinya di depan wanita, bagi saya sama saja menjatuhkan martabat dan harga dirinnya. Di tambah lagi ketika orang yang melawan sekuriti tersebut, yang awalnya emosi tetapi lebih memilih untuk meredam amarahnya dan meminta maaf terlebih dahulu. Namun si sekuriti dengan tingkah sombongnya justru pergi meninggalkan bapak yang meminta maaf tersebut. Jatuh sudah martabat si sekuriti tersebut di mata saya.

Kejadian di atas mengingatkan saya ketika SMA. Saya masih ingat sekali tatapanya dan cara marahnya teman saya kepada saya. Sebut saja, namanya **za (Biiiiippppppp^&(@^#(^#). **za anaknya baik, ramah, supel, populer dan cukup pandai di sekolah. Hingga suatu hari ia sebagai ketua kelas mendapatkan tugas untuk membagikan kartu ujian sekolah. Entah bagaimana ceritanya, ternyata kartu ujian saya tidak ada. Saya coba berbicara baik-baik namun hanyalah ingatan pahit yang saya masih ingat hingga hari ini.
Dian       : Za... kartu gw kok ga ada.
** za     : NTAR DULU KEK!!!
Cukup syok saya mendengar nada amarahnya sambil membentak saya. Ternyata orang yang saya anggap baik dan ramah bisa membentak seperti itu di depan teman perempuannya.

Dan tanpa saya sadari, mata saya langsung berkaca-kaca karena bentakan si **za. Saya nangis bukan karena saya punya perasaan dengannya. Tapi saya nangis karena Bapak saya saja seumur-umur tidak pernah membentak saya. situ siapa???

Dan sepertinya waktu itu, ia melihat mata saya berkaca-kaca. Satu hal yang membuat saya salut kepadanya. Ketika dia melihat saya hampir nangis lalu ia langsung pergi tanpa bicara apapun. Coba seandainya dia bicara “GITU AJA CENGENG”, pasti saya sudah nangis bombay di kelas. Dan yang membuat saya salut lagi, ternyata ia pergi mencarikan kartu ujian saya. entah menanyakan kembali di TU atau mencarikan karena terjatuh.

Sejak itu, image dia di mata saya sedikit mengecewakan. Walaupun saya tahu ia adalah orang yang bertanggung jawab, buktinya ia sampai rela mencarikan kartu ujian saya sampai ketemu. Tapi, tetep aja kalau ada laki-laki yang pernah membentak perempuan itu, kayaknyaaaa gimanaaaa gitu.

Sampai suatu ketika saya pernah melihat dia di UNJ dan kami berpapasan. Lalu ia berusaha menyapa diriku dengan ramah. Namun saya hanya membalasnya dengan senyum seadanya. Hah! Masih aja kebayang ingatan masa lalu.

Intinya sih, laki-laki itu harus hati-hati deh kalo lagi emosi di depan wanita.
Hah~ gara-gara si sekuti bletot, saya jadi ceritaiin beginian.