Sabtu, 25 Juni 2016

Selasa, 14 Juni 2016

Selasa, 14 Juni 2016

Andaikata diharuskan memilih hari terburuk selama mengajar, mungkin hari itu lah hari yang paling menyakitkan yang pernah ada. Lebih menyakitkan dibandingkan saat tangan saya memukul meja hingga berdarah hanya untuk mengatur siswa SMK. Ya!!! mereka siswa SMA yang selama ini selalu saya banggakan! entah mengapa hari itu menjadi rendah serendahnya.
Andaikata nilai ulangan yang mereka dapatkan memang benar usahanya, tentu akan membuat saya bahagia. Tapi entah mengapa perasaan mengatakan ada yang salah dengan semua ini. Maaf bukan bermaksud merendahkan atau meremehkan usaha mereka namun banyak siswa yang berkemampuan dibawah rata-rata, mendapatkan nilai hampir sempurna bahkan sempurna. Ingin mencoba mempercayai mereka namun rasa suudzon justru lebih mendominasi dengan fakta-fakta yang ada. Jangankan untuk mengingat cara pengerjaan 40 soal, untuk mengingat 5 soal pun saya yakin mereka kesulitan.

Spekulasi pun berkecamuk di dada. Ada kemungkinan mereka mengambil kunci jawaban yang ada di meja saya. Mencoba meluruskan tanpa menghakimi mereka, saya menuliskan pesan kepada mereka “ada yang ingin di sampaikan ke saya?”. Namun tak seorangpun menghadap saya. Sedih, kecewa, marah! Semua bercampur di dada. Hingga akhirnya saya kembali menuliskan pesan
“Terimakasih sudah belajar fisika dengan benar. Insyallah sudah tidak ada tagihan nilai tugas. Seandainya ada yang ingin disampaikan ke saya silakan SMS ke 08988******. JANGAN TEMUI SAYA YA. Terima kasih.”

Rasanya sudah mampu lagi melihat wajah tak bersalah mereka. Bagaimana mungkin satu angkatan tak seorangpun berani berkata jujur ke saya. Sampai suatu ketika saat pulang sekolah ada beberapa anak yang hendak bertemu dengan saya. Sepertinya anak tersebut hendak melaporkan kecurangan yang terjadi, namun karena perasaan saya sedang berantakan, sayapun menghindarinya. Hingga sayapun kecolongan tiba-tiba ada satu anak menghampiri saya yang membuat saya tak berkutik menghindarinya, ia menangis didepan saya. Jujur perasaan saya masih masih marah, masih tidak sanggup menatap wajah mereka walaupun saya tahu ia tak mungkin melakukannya. Darinya saya tahu ternyata semua berawal dari penjual jasa fotokopian. Entahlah apa yang difotokopi, entah soal entah kunci jawaban.  

Hari itu perasaan saya terasa terinjak-injak. Mencoba menguatkan hati namun nyatanya tak bisa.
Andaikata mereka tahu bagaimana perjuangan saya membuat soal, mungkinkah mereka akan seperti ini?

Dimata orang, mungkin saya tampak seperti workaholic. Bekerja di dua institusi resmi, dua bimbingan belajar dan belum lagi weekendpun saya tetap harus bekerja. Lelah? Pasti lelah!. Kejar setoran? Tidak juga!. Andaikata saya bisa berhenti, saya pasti memilih berhenti. Namun saya masih belum menemukan alasan kuat untuk berhenti. Ada yang bisa bantu saya?

Mengatur dua jadwal di dua sekolah cukup menguras tenaga dan puncaknya selalu saat ujian tengah semester ataupun ujian semester siswa. Pernah suatu ketika badan drop se derop drop nya karena begadang untuk membuat kisi-kisi soal, kartu soal dan soal ulangan untuk 5 mata pelajaran. Ingin istirahat di rumah namun kewajiban di sekolah yang memaksa saya untuk tetap bekerja. Masih teringat bagaimana lemahnya saya di depan anak-anak. Jangankan untuk menulis dipapantulis, untuk berdiri selama tiga puluh detik saja saya tidak mampu. Alhamdulillah, anak-anak mengerti keadaan saya dan akhirnya mereka membantu menuliskan soal dan tetap mengerjakan soal tanpa saya awasi.
Saat itu saya bersyukur sekali memiliki anak-anak yang patuh terhadap perintah gurunya. Bukan hanya itu, pernah suatu ketika mereka berkata perkataan kasar dan terdengar di telinga saya. Hingga saya membuat peraturan ‘satu perkataan kasar di denda 1000’. Dan amazingnya mereka konsisten dengan peraturan tersebut hingga tahun ajaran berakhir. Senang rasanya memiliki murid-murid seperti mereka. Tidak masalah, tidak mengerti pelajaran! Asalnya akhlak dan mental kemauan belajar ada, sudah cukup.


Tak sepatutnya saya menyalahkan mereka, mungkin ini juga PR saya untuk membentuk mental jujur mereka.



#CatatanHatiSeorangGuru2

Minggu, 17 Januari 2016

untitle

Seberapa menyesalnya aku mengenal dirimu. Setidaknya aku bersyukur, kau tidak pernah mengatakan apapun dan menjanjikan apapun padaku.

Jumat, 15 Januari 2016

Hubungan Dengan Orangtua



Entah mengapa, belakangan ini selalu di hadapkan dengan kasus yang berkaitan tentang hubungan sosial orangtua dan anak. Kasus yang selama ini hanya saya jumpai dalam buku bimbingan konseling yang di dapatkan dalam modul ketika saya masih menempuh jenjang pendidikan SMA, kini saya melihat faktanya sendiri. Walaupun memang tidak secara langsung saya alami sendiri tetapi masih bisa saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Mungkin memang benar tingkat pendidikan orangtua mempengaruhi karakter anak yang mereka didik, walaupun tidak sepenuhnya benar.

Pekerjaan yang kami (red:guru) geluti memang memaksa kami tidak hanya harus berinteraksi dengan siswa namun orangtua pun tak jarang masih kita geluti. Masih ingat di kepala saya, ketika pertama kali mengajar di sekolah swasta yang sebagian siswanya berada pada tingkat ekonomi yang menengah ke bawah bahkan mungkin jauh dibawah.

 Jika mungkin kita biasa melihat seorang guru memarahi hingga membentak siswanya karena melakukan kesalahan, ini pertama kalinya saya melihat guru memarahi habis-habisan orangtua siswa. Bingung, kaget hingga syok pikiran saya waktu itu. Bagaimana mungkin seorang guru bisa bersikap seperti itu kepada orangtua murid. Yang kalau di ibaratkan orangtua murid di sekolah swasta itu seperti mesin ATM yang bersedia mengeluarkan dana untuk anaknya sekolah dibanding anak yang sekolah gratis (red: sekolah negeri). Bukan sepatutnyalah guru bersikap seperti itu hingga tidak dapat menahan emosinya. 

Namun setelah ditelusuri, ternyata orangtua murid ini memang sudah keteraluan dan ternyata waktu itu bukanlah yang pertama kali namun sudah berkali-kali. Pertama, dari surat panggilan sekolah yang sudah diberikan tidak satupun dipenuhi. Kedua, orangtua ini (maaf) sepertinya sudah tidak peduli dengan anaknya. Jangankan untuk tahu anaknya akan mengikuti Ujian Nasional (UN), anaknya sekolahpun ia tidak tahu. Anaknya mau dirumah masa bodo, anak mau ke sekolah masa bodo bahkan anaknya mau nongkrong di pinggir rel pun masa bodo. Miris hati saya! mendengar keterangan bapak guru itu.

Kadang saya suka berfikir “Kenapa sih saya harus bekerja ditempat seperti ini, tempat yang jauh dari harapan saya”. Dan saat itulah saya dapat jawaban, mungkin Allah ingin menunjukan ‘ini loh potret pendidikan Indonesia, ada loh kasus kayak gini, bahkan di Jakarta. Pendidikan tuh ga sebatas kamu untuk mengajarkan supaya muridmu pintar jadi dokter, jadi insinyur atau jadi pilot . Jauh deh dari apa yang kamu bayangkan!’.

Kalau di pikir-pikir kuliah 4,5 tahun di U*J serasa tidak ada gunanya (kecuali untuk diri saya sendiri). Di kuliah saya belajar menghitung rumus, mempelajari metode pembelajaran untuk menarik minat belajar, hingga menciptakan media pembelajaran. Namun tak satupun dapat dimanfaatkan. Disini kami harus putar otak supaya siswa mau belajar bahkan kami harus putar otak supaya anak berangkat dari rumah itu tujuannya ke sekolah, bukan ke terminal atau ke pinggir rel.

Itu hanya sebagian kecil kasus yang pernah saya lihat. Belum lagi kasus siswa yang tidak masuk berhari-hari, ternyata sudah ‘tek dung’ dan ini seolah-olah biasa di alami murid bahkan satu kelas bisa terdapat tiga siswa yang mengalami ‘kecelakaan’. Innalillah. Adalagi kasus teman saya yang dikejar-kejar atau lebih tepatnya diteror orangtua murid untuk meminjam uang karena orangtua tersebut ditagih hutang.

Itu kalau kasus yang dialami oleh anak yang menengah kebawah, kalau anak yang menengah ke atas kasusnya lebih ektrim lagi. Ada yang broken home, ada yang memilih tinggal bersama neneknya daripada orangtua, bahkan ada juga siswa yang mendoakan orangtuanya supaya masuk neraka. Kasus seperti perkelahian,bullying, narkoba, pencurian dan macam-macamlah ternyata ada. Alhamdulillah Allah membuka mata saya supaya kelak saya harus menjadi orangtua yang lebih baik dan banyak memperhatikan perkembangan anak.

Dan ada satu kasus satu lagi, kasus sederhana yang mungkin bisa membuat saya atau mungkin kita (red: saya dan yang membaca) lebih banyak bersyukur lagi.
Kalau saya perhatikan, setiap jam pelajaran pertama sebagian besar siswa pasti datang terlambat dan selama jam pelajaran berlangsung, siswa sangat hobi sekali pergi ke WC dan alasannya itu bukan buang air kecil tetapi (maaf) buang air besar. Setelah berbincang-bincang dengan guru dengan maksud mencari informasi apakah hanya di jam pelajaran saya siswa bersikap seperti atau di jam pelajaran lain memiliki sikap yang sama pula. Namun, saya justru mendapat fakta yang berbeda. Jadi, mengapa siswa itu suka sekali ke WC karena sebagian siswa itu tidak memiliki kamar mandi di rumahnya. Jadi jika siswa mau mandi, cuci, dan lainya mereka lakukan di WC umum dan seperti yang kita ketahui yang namanya WC umum itu pasti ngantri, itulah sebabnya mengapa siswa sering terlambat atau mengapa siswa suka sekali ke WC sekolah, karena WC sekolah gratis. Allahuakhbar. 

Kadang kita lupa bersyukur. Setiap hari berdo’a selalu meminta limpahan rizki sampai lupa memiliki kamar mandi di rumah pun juga rizki. Jika selama ini selalu mengukur rizki dengan uang yang belum dimiliki namun apa yang sudah kita miliki juga termasuk rizki. Alhamdulillah.

Aaa! Kalau mikirin masalah anak-anak tuh tidak ada habisnya dari emosi, kesel, dongkol sampe gondok pun campur-campur.Pusing saya kalau dipikirkan terus. Banyaknya kasus orangtua-anak yang sudah saya lihat, seolah menunjukan ketidakpedulian orangtua terhadap anaknya. Bahkan pak dhe saya (kakak ipar dari ibu saya) tidak ingat nama anak-anaknya. Bukan karena beliau tidak peduli terhadap anaknya namun terlebih karena memang faktor usia. Belajar dari pengalaman akhirnya saya dan ibu mau ngetes si-bapak (orangtua saya), berhubung bapak sudah berumur. Hehehhe.  Apa masihh ingat dengan anak-anaknya atau tidak. Kalau ditanya nama anaknya pasti masih inget. Secara anaknya cuma dua dan setiap hari nungguin anaknya pulang ke rumah dulu sampai ketiduran di ruangtamu dan baru pindah tidur ke kamarnya kalau kedua anaknya sudah sampai rumah. Kalau tetap tidak ingat keterlaluan namanya.

Ibu = ‘Pak, coba si Dian lupa tuh tanggal lahirnya. Coba kasih tau!’
Bapak = ‘Ah!!! Masak begitu lupa’ (Si Bapak pasang muka serius)
Dian = ‘hehheheh. Iya nih lupa’
Ibu = “kasih tau coba”
Bapak = “Tanggal 14 bulan Januari, eh 14 Februari”
Ibu = “Masih inget yan bapakmu”
Dian = “Alhamdulillah, wakakakakak”



#CatatanHatiSeorangGuru1
 

Rabu, 10 Juni 2015

우리 REVO



Seminggu ini si Revo cukup menguras dompet. Berawal dari hari Senin 01 Juni 2015,yang biasanya saya berangkat bada zuhur kali ini saya berangkat 30 menit sedikit awal. Tanpa disangka-sangka hujan turun cukup deras. Sebenarnya saya bawa jas hujan tetapi karena hujannya ckup deras dan disertai angin guntur maka saya urungkan untuk menerjang banjir demi keselamatan diri. Cukup lama menunggu hujan, ada sekiar satu jam saya menunggu hujan reda namun tak kunjung datang. Kali ini dengan alasan takut terlambat akhirnya saya coba terjang hujan. Saat saya nyalakan motor alhamdulillah si Revo menyala karena biasanya si Revo ini sudah seperti kambing, terkena air saja langsung mati. Namun rasa gembira saya tak sampai 3 menit, begitu saya ingin mendahului angkutan 09 tiba-tiba si Revo menunjukan gejala-gejala yang saya takutkan yaitu mati. Setelah saya gas penuh si Revo bukanya maju malah terdiam alis mati dan kondisi itu diperparah dengan ada mobil dengan kelajuan tinggi dari arah depan. Dengan izin Allah saya masih di beri kesempatan untuk membanting stir ke kiri sampai akhirnya si Revo benar-benar mati.

Hujan masih turun dengan derasnya dan saya harus menuntun si Revo ke tepian. Daripada saya menjadi bahan perhatian orang-orang yang sedang berteduh akhirnya saya putuskan meninggalkan si Revo di Alfamart.  “cantik-cantik masak dorong motor?”. Hahahhahaha.

Setelah meninggalkan si Revo ditempat yang aman, saya memutuskan berhujan-hujanan menggunakan jas ujan dan helm untuk mencari bengkel. Rasanya saya seperti orang bodoh mondar-mandir mencari bengkel ditengah hujan, sampai akhirnya saya menemukan bengkel yang berada di daerah turunan. Hah~ rasanya saya  bersyukur lagi karena saya tidak perlu bersusah payah untuk mendorong motor. Ternyata masalah si revo lagi-lagi busi yang basah dengan hanya membayar 15.000 akhirnya si Revo dapat menyala kembali. Namun saya memutuskan untuk tidak lanjut bekerja khawatir si Revo ngambek lagi.

Selang dua hari kemudian si Revo menunjukan gejala-gejala yang mebuat saya kembali khawatir. Si Revo suka mati sendiri di tengah jalan dan puncaknya ketika saya sampai di daerah perempatan pos penguben. Si Revo benar-benar mati saklak. Ada sekitar 15 menit saya terdiam di pinggir jalan sambil berusaha menyalakan si Revo namun hasilnya nihil. Akhirnya saya menyerah kembali dan meinggalkan si Revo begitu saja. Tidak seperti saat hujan waktu itu, kali ini saya coba bertanya kepada seorang bapak-bapak tentang bengkel terdekat dan beliau mengatakan ada di belokan kiri sekitar 100m. Saya kembali mendorong si Revo, cuma kali ini agak sedikit aneh ada beberapa motor didepan saya yang juga di dorong, hanya saja yang mendorong adalah laki-laki dan anehnya lagi tiba-tiba ada motor yang mendahului saya dan motornya mati di depanya saya. Dalam hati saya “hari ini ada apa dah?! Semua motor pada mati”. Namun setelah mendahului motor yang didepan saya ternyata motor orang tersebut tidak mogok, justru orang itu menawarkan bantuanya untuk mendorong motor saya namun saya menolaknya. Saya pikir orang tersebut sudah pergi namun ternyata orang tersebut masih dibelakang saya dan masih menawarkan bantuan kepada saya dan tetap saya menolaknya.

Sesampainya di bengkel ada sekitar satu jam lebih motor saya diperbaiki. Saat dibengkel, jujur saya menangis. Saya menangis bukan karena saya malu atau tengsin karena wanita mendorong motor tetapi saya sedih karena abang tukang bengkel selalu mengajak saya ngobrol tentang mesin motor namun saya tidak mengerti. Hah~~~ sedih rasanya bertahun-tahun bersama si Revo namun saya tidak pernah memahaminya. Dan saya semakin menyadari bahwa ternyata si Revo sudah berumur, apakah ini waktunya tuk berpisah?.

Belakangan ini saya selalu mempertahankan si Revo dengan alasan apapun. Jika rusak maka saya akan menganti dengan onderdil yang original agar ia tetap bertahan. Bukan karena saya sayang untuk membeli motor baru tetapi karena si revo banyak memberi kenangan pada saya. Si Revo lah yang menjadi saksi akan perjuangan skripsi saya. Masih ingat ketika saya pulang dari fotokopi skripsi tiga rangkap dan belum sempat dijilid. Karena kecerobohan saya meletakan skipsi sembarangan di motor hingga akhirnya ketika saya tancap gas tinggi si skripsi terbang bak daun yang jejatuhan dari pohon. Saat saya sadar skripsi saya jatuh, kepala saya reflek menengok kebelakang dan itu skripsi berterbangan kemana-mana bahkan di belakang saya terdapat patas AC yang kacanya hampir tertutup oleh skrispsi saya. Hancur hati saya saat skripsi yang saya perjuangkan berbulan-bulan rusak seketika. Dan yang lebih mengharukan lagi saat itu hidup saya seperti drama korea. Bisa di bayangkan, seluruh kendaraan yang ada di jalan itu berhenti seketika dan memakirkannya ke pinggir jalan. Setelah itu mereka turun dari kendaraan untuk membantu saya mengambil berkas-berkas skripsi saya. Tak hanya pengendara motor bahkan kondektur patas AC dan orang-orang yang berada di pinggir jalan turun membantu saya mengambl skipsi saya. Saya baru pertama kali merasakan pertolongan berjamaah hingga jalanan itu lumpuh total karena ulah saya.

Tak hanya sampai di situ,
1.       dengan si Revo lah saya biasa menempuh perjalanan terjauh Ciledug-TMII-Grogol-Pondok Gede,
2.       dengan si Revo lah saya pernah menggores sebuah mobil,
3.       dengan si Revo lah kaki saya pernah terlindas mobil,
4.       dengan si Revo lah saya hampir tertabrak truk,
5.       dan dengan si Revo lah saya lebih suka menangis di banding menyendiri ditempat sepi
Maka ketika si Revo sakit, maka saya orang pertama yang akan terluka. Mungkin ini saatnya untuk berpisah dibanding membuatnya semakin terluka.

Uri Revo...

Terimakasih sudah menemaiku selama 4 tahun ini.
Mungkin aku bukan yang pertama bagimu
tetapi kamu adalah yang pertama bagiku.
Dan terimakasih sudah menjadi sandaran disaat aku dalam keadaan suka maupun duka.

Kamis, 28 Mei 2015

MAN SHABARA ZHAFIRA


“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku” (Al-Baqarah : 186)

Man Shabara Zhafira, Siapa yang bersabar dia lah yang beruntung. Sebenarnya firman Allah yang mengatakan bahwa Allah akan menjawab semua do’a hamba-Nya adalah sebuah kebenaran mutlak. Allah mengabulkan doa kita dengan tiga cara:

  1.   Apabila Allah mengatakan YA, kita akan mendapatkan apa yang kita minta 
  2.  Apabila Allah mengatakan TIDAK, kita akan mendapatkan yang lebih baik 
  3.  Apabila Allah mengatakan TUNGGU, kita aka mendapatkan yang terbaik pada saat yang tepat menurut Allah


Begitulah kutipan yang terdapat dalam buku Man Shabara Zhafira penulis Ahmad Rifai Rifan. Tulisan kali ini bukan bermaksud untuk membuat resensi dari buku yang saya sebutkan diatas tetapi hanya sekedar ingin berbagi dan sharing pengalaman orang-orang disekitar saya tentang kalimat tersebut. Hehehhehe. Setelah tiga tahun menemukan password blogger saya, sekarang saya jadi suka cerita (menulis) tidak jelas begini. Kalau T.O.P BIGBANG bilang “Jika tidak suka silakan unfollow saya”, maka saya akan mengatakan yang sama “Jika merasa terganggu jangan dibaca”. Karena menghidupkan kembali blog saya merupakan resolusi saya di tahun 2015. Mau cerita penting tidak penting tetap saya akan menulisnya. Saya tidak peduli, orang akan mengatakan saya narsis atau semacamnya. Tujuan saya menulis adalah sebagai pengingat untuk diri saya bahwa saya pernah melalui masa-masa itu. Maka dari itu sebagian yang saya tulis adalah pengalaman orang-orang yang ada disekitar saya. Diary dong? Hmmm, di bilang seperti itu juga tak mengapa.

Bicara soal diary, jadi ingat dulu waktu SMA. Saya, Jiji dan Ayu memiliki diary bersama yang kami beri nama BuDi singkatan dari Buku Diary yang didalamnya berisi ost Inuyasa, catatan pelajaran sekolah, foto (bukan foto kami bertiga tapi justru foto orang lain, surat-surat (kalau guru sedang menjelaskan, kami lebih suka ngobrol via kertas dibanding ngomong langsung, alasannya takut diomelin guru) dan yang paling penting dari semua itu yaitu curhatan kami tentang... ah~ tidak usah dibahaslah, kalau dibaca lagi cuma bikin malu. Semoga saja buku itu tidak akan pernah di baca dan ditemukan orang lain. Aminn. Mungkin kelakuan semua anak SMA begitu kali ya?. Hah~ yang sudah berlalu biarlah berlalu. Semoga diary yang ini tidak malu-maluin.

Mengapa saya beri judul Man Shabara Zhafira?
Karena saya tidak tahu harus memberi judul apa!
Masak ‘perjalanan hidup saya dan orang-orang disekitar saya’? (aneh bin absurd)
Akhirnya setelah melihat koleksi buku saya, saya temukanlah buku Man Shabara Zhafira dan saya jadikanlah judul tulisan ini.

Berawal dari sebuah bimbel yang terletak di Kemanggisan. Salah seorang murid sedang mencurahkan seluruh hatinya kepada salah satu kakak yang mengajar di bimbel tersebut. Murid tersebut mungkin bisa dibilang sedang drop atau down atau semacamlah. Ia memang sedang fokus untuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi negeri. Singkat cerita, saya datang tiba-tiba dan langsung di judge “Tuh kayak Ka Dian dong bisa ke Korea dan Bahasa Korea”. Sontak saya kaget, baru dateng tak tahu permasalahanya tiba-tiba di beri sambutan demikian. Entah memuji atau menyindir saya tidak tahu. Yang jelas kalau tujuannya menyindir pasti bercanda. Kebiasaan anak bimbel khususnya pengajarnya kalau ngobrol kebanyakan becandanya daripada seriusnya, kebanyakan ngeledeknya daripada ‘memujinya’ . Hahahhaha. Tapi itulah yang membuat saya merasa nyaman berada disana. Bimbel tersebut terasa sudah seperti rumah ke tiga saya. Rumah pertama yaitu rumah bapak ibu Slamet Santoso, rumah ke dua yaitu rumah NiLarasati Kartika Sari dan Alinnavia Istiqomah dan rumah ketiga yaitu BBI Kemanggisan. Dimana ketiganya saya dapat melakukan apapun seenak jidat saya. (Ngelantur lagi kan? Balik kepermasalahan)


Karena saya belum shalat Ashar jadi saya tidak terlalu menaggapi pernyataan tersebut. Dari belakang tersengar sayup-sayup pembicaraan mereka yang kurang lebih si anak sedikit frustasi tentang nilainya, entah nilai TryOut SBMPTN atau nilai UN (Ujian Nasional) yang menurun di mata pelajaran Bahasa Inggris. Ia merasa sudah belajar mati-matian namun hasilnya nihil. Hanya percakapan itu yang saya dengar sekilas selanjutnya saya tidak tahu apa mereka bicarakan lagi, apa yang kakak bimbel sarankan dan apa yang dirasakan murid itu selanjutnya, saya pun tak tahu.

Sedikit mengerti mengapa kakak itu mengatakan “Saya bisa bahasa Korea”. Mungkin kakak tersebut ingin memberikan semangat kepada siswa tersebut dengan cara penokohan dan tokohnya adalah saya. Sayangnya beliau salah, menjadikan saya sebagai tokoh. Boro-boro ngomong Bahasa Korea, baca tulisan korea aja masih gelagapan! Kata-kata Korea yang saya tahu hanya nama silsilah keluarga, aniya (tidak), saranghae (aku cinta padamu), bogo (makan), sama paling judul lagu korea. Hahahahha jadi malu. Seandainya Tikpo yang masuk, pasti Tikpo yang akan jadi tokohnya. Karena memang dia yang pantas di jadikan contoh. Bukan hanya pandai Bahasa Korea, Tikpo juga sangat mahir berbahasa Inggris. Namun sayangnya ia tidak sedang berada disana saat itu. Kalau sendainya anak itu cerita ke saya pasti akan saya ceritakan tentang Tikpo. Bagaimana perjalanan Tikpo bisa lancar berbahasa Inggris.


Saya pernah bertanya “Po, gimana sih biar bisa bahasa inggris?” dan setiap ada orang yang bertanya dengan pertanyaan sama pasti ia akan menjawab dengan jawaban yang sama pula “sering dengerin lagu bahasa inggris. Makanya dengerin lagu westlife!!!”. Haish, kalimat pertama enak didengarnya tapi kalimat kedua agak gimana gitu. Tikpo itu punya sifat ‘misionaris’ (bukan dalam arti sebenarnya) untuk menyebarkan apa yang dia suka. Saya masih masih ingat, ketika ia meminjam HP saya. Saya pikir ia melihat folder foto saya, tapi ternyata dia mem-bluetooth lagu Beast ke saya. Saya bingung sendiri ‘lagu apa nih?’, karena saya tidak merasa pernah mendownload lagu Beast (waktu itu saya hanya tahu lagu Super Junior) tapi kok bisa berada di HP dan ternyata itu ulah dia sendiri.

Saya tidak heran, jika ia bisa lancar berbahasa inggris. Bayangkan saja, ketika anak SD menyanyikan lagi di obok-oboknya Joshua ia hapal lirik lagu satu album-nya Westlife. Kemudian disaat orang-orang menonton film barat menggunakan subtitle, ia sudah tidak menggunakannya lagi. Makanya wajar kalau saat ini ia berbicara bahasa inggris dengan lancar dan fasih. Karena dari SD ia sudah biasa mendengarkan kata-kata bahasa inggris. Jadi bisa itu karena biasa.

Sama seperti saya, beberapa terakhir ini saya baru mengetahui keutamaan membaca empat ayat pertama surat Al-Baqarah, ayat kursu,  dua ayat setelah ayat kursi dan tiga ayat terakhir suarat Al-Baqarah. Baru saya lihat ayatnya sudah membuat saya down duluan karena jumlah ayat yang harus saya hapal ini hampir satu lembar alquran, apakah saya bisa menghapalnya?. Jangankan satu lembar, untuk menghapal setengah halaman aja susahnya minta ampun. Tetapi begitulah manusia hanya melihat dari penampilanya saja. Namun setelah saya membacanya, ternyata ayat-ayat tersebut adalah ayat-ayat yang ada pada al-masurat yang bagi saya sendiri sudah tidak asing. Bahkan jika hanya sebut huruf awalnya saja insyallah saya bisa melanjutkanya.

Jika dikatakan bisa itu karena biasa, saya rasa itu benar. Sejak kuliah saya mulai membiasakan membaca al-masurat ketika naik motor atau naik angkutan umum. Dibilang aneh tak masalah bagi saya. Sempat suatu ketika setelah saya membaca al-masurat diangkutan umum ada seorang bapak mengakui dirinya bisa membaca masa depan. Mungkin beliau berfikir saya membaca al-masurat karena saya punya hajat besar maka beliau memberi tahu saya suatu bacaan yang harus saya baca 1000x agar hajat saya tercapai. Saya tidak ingat apa yang beliau ajarkan karena pada saat itu saya memang sejang tidak memiliki hajat jadi saya abaikan. Satu pesan beliau yang masih saya ingat “tadi saya lihat garis tangan mbak saat baca almasurat, kedepanya akan menemui kesulitan yang besar jadi bersabarlah”. Seram rasanya, saya itu paling tidak suka ramalan karena ramalan hanya membuat manusia terkekang dengan masa depan yang belum pasti terjadi. Entah siapapun bapak itu, yang selalu saya ingat yaitu ‘saya harus lebih bersabar’. Iya bersabar untuk memperolah keberhasilan.

Nah sekarang, jika di tanya ‘Siapa yang ingin menjadi orang yang berhasil?’. Pasti semua orang akan mengangkat tangannya bahkan jika orang tersebut memiliki 1000 tangan  pasti seribu-ribunya akan di angkat sebagai pembuktian bahwa keinginannya tersebut serius. Jika semua orang berharap berhasil lalu mengapa masih ada sebagian orang yang gagal?. Paling tidak ada beberapa kemungkinan. Pertama, orang itu tidak tahu cara untuk meraih keberhasilan.  Kedua, orang tersebut sudah tahu bagaimana untuk meraih keberhaslan, hanya saja tidak sabar menjalani semua proses yang seharusnya diselesaikannya sebelum ia benar-benar berhak untuk meraih mendali keberhasilan.

Penyebab kedua inilah yang sering kali menjadi penyebab klasik mengapa banyak orang  yang punya harapan dan impian tinggi namun gagal meraihnya. Hampir semua pelajar tahu bahwa cara paling jitu untuk meraih nilai tinggi dalam uujian adalah belajar. Namun masih banyak pelajar yang tidak sabar untuk menjalani dan menuntaskan syarat-syarat suksesnya itu dengan beragam dalih dan alasan. Malas, jenuh, bosan banyak godaan teman dan beragam alasan lainya yang bermunculan dalam benaknya karena tingkat kesabaran dalam jiwanya sangat rendah. Akibatnya semangat untuk meraih kesuksesan justru terkikis oleh hal-hal yang sebenarnya sangat remeh.

Ustad Yusuf Mansyur

Lalu bagaimana jika ada orang sudah rajin, tekun, shalat sunnahnya tidak putus, rajin shalat jamaah dimasjid, zakatnya sudah pol-polan tetapi masih belum mendapatkan atas apa yang di usahakan? Bukannya mendapat berkah tetapi malah musibah. Kalau kata ustad Yusuf Manshur “Pengetahuan kita itu belum sampai atas jawaban Allah”. Kadang amalan yang kita perbuat tidak mampu menghapus dosa-dosa yang kita lakukan, maka dari itu Allah ingin memberikan ujian sebagai penghapusnya. Kita tidak pernah tahu hikmah apa yang Allah berikah kepada kita. Mungkin jika Allah memberikan jawaban ‘Ya’ kita tidak akan pernah belajar dari kesalahan. Maka Allah akan memberikan jawaban ‘Tunggu’ untuk memberikan yang terbaik untuk hambanya.

Bicara soal jawaban Allah yang TUNGGU, mengingatkan akan perjalanan Magenta ke Korea dan semakin mengingatkan saya bahwa jawaban Allah atas doa-doa umatnya benar mutlak adanya. Saya masih ingat bagaimana reaksi setiap teman-teman yang tahu saya pulang dari Korea. Ada yang wahh, ada yang bilang keren, ada yang bilang daebak, bahkan ada yang bilang ‘wah uangmu banyak juga ya?’.

Padahal jika mereka tahu penghasilan saya perbulan hanya ¼ dari penghasilan mereka, pasti mereka tidak akan mengatakan saya ‘keren’ tapi akan mengatakan saya ‘gila’. Iya, gila! Karena dengan penghasilan begitu saya nekat jalan tanpa bantuan biaya siapun atau menang undian apapun.

Sampainya kami di Korea Februari 2015 lalu bukanlah keinginan kami saat itu. Tetapi keinginan kami dua tahun lalu. Iya, dua tahun lalu yang rencananya akan ke Singapura namun Allah berkehendak lain justru membelokan ke Korea. Butuh waktu dua tahun untuk sampai di sana dan butuh dua tahun juga untuk bersabar. Bersabar menghadapi nilai tukar rupiah yang semakin naik, bersabar mencari dana dan bersabar untuk mempertahankan mimpi. Bersabar mempertahankan mimpi inilah yang paling sulit, sebentar-bentar semangat sebentar-sebentar tidak. Apalagi mengingat saat-saat pahit getirnya mengumpulkan dana karena saat itu staus kami masih mahasiswa.

Bulan-demi bulan rasanya semakin berat, kemampuan untuk mengumpulkan uang semakin surut, masalah keuangan silih berganti. Ada yang kerja tapi haknya di tahan akhirnya memutuskan untuk berhenti kerja, ada yang orang tuanya sakit jadi juga harus ambil bagian di keluarga, ada juga yang penghasilanya sebulan tidak genap genap satu juta dan ada juga yang harus melanjutkan untuk biaya kuliah S2-nya. Masih terngiang sekali bagaimana sulitnya melalui hari-hari itu. Hingga H - 1bulan, puncak dari segala permasalahan. AIR ASI* dilaporkan jatuh diselat Malaka. Tidak hanya kami berempat saja yang khawatir tetapi seluruh keluarga kami. Hingga sempat kami tidak mendapatkan izin dari orangtua.

Air Asia D7 507 at Incheon International Airport


Memang benar rencana Allah tidak akan pernah bisa diprediksi. Mungkin kecelakan itu ujian untuk meneguhkan hati kami akan mimpi kami. Maka dari itu buah dari kesabaran itu akhinya terwujud juga bahkan melebihi dari apa yang kami kira.
Pertama, pesawat yang kami naiki mengalami perubahan jadwal untuk keberangkatan ke Korea sehingga kami memiliki waktu jeda transit lebih dari 6 jam sehingga kami memiliki kesempatan untuk jalan-jalan di Malaysia.
Kedua, saat akan kembali ke Jakarta pesawat dari Korea delay hingga 3 jam yang mengakibatkan kami tertinggal untuk penerbangan selanjutnya. Sebagai pertanggung jawaban dari pihak Airasi* kami diberikan lagi bonus sehari tinggal di Malaysia. Kami dibawa keluar bandara dan menginap di hotel.
Dan ketiga, JAKARTA BANJIR. Dihari yang seharusnya pulang dari Korea kami langsung kerja tetapi kami di beri kesempatan Allah untuk istirahat. Jadi total liburan kami yang harusnya 10  hari berubah menjadi 14 hari. Alhamdulillahirabilalamin.

Memang benar yang namanya sabar itu susah. Tetap percaya saja pasti Allah akan memberi yang terbaik untuk kita bahkan melebihi dari apa yang kita kira.

Saya menulis ini bukan berarti menyalahkan siswa yang tidak mau bersabar dalam belajar. Tetapi jujur sudah lama saya ingin menulis tentang ini. Bukan karena ingin pamer atau sejenisnya. Tetapi sebagai pengingat untuk saya. Bahwa setidaknya salah satu impian saya pernah berhasil jadi berharap kedepannya saya jangan takut bermimpi dan jangan takut mimpi itu tidak akan terwujud. Sekaligus, sebagai wujud rasa syukur saya memiliki teman-teman yang hebat.

Teman, disaat salah satu dari kami jatuh, mereka orang pertama yang mengulurkan tanganya.
Teman, disaat salah satu dari kami bahagia, mereka orang pertama yang kami ingat.
Teman, disaat orang lain menahan dan ragu meminjamkan hartanya, merekalah orang pertama yang suka rela meminjamkan hartanya tanpa tahu kapan dikembalikan.
Dan teman, disaat salah satu dari kami berusaha memutus tali silahturahmi justru mereka yang berusaha menyatukan kembali.

Terima kasih telah memberikan ruang untuk saya diantara kalian.
Jazakumullah Khairan Katsiran. Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza. 

“Semoga Allah SWT akan membalas kalian dengan kebaikan yang banyak dan semoga Allah SWT akan membalas kalian dengan balasan yang terbaik”

KLIA Xpress, Kuala Lumpur

Namsan Tower, Korea Selatan
Nami Island, Korea Selatan
 Namsan Tower, Korea Selatan

 KLIA2, Kuala Lumpur
KRB, Bogor
Gelora Bung Karno, Jakarta