Selasa, 28 Juni 2016

PENYESALAN



Selasa, 28 Juni 2016



Video di atas adalah kegiatan siswa-siswi SMA lebih khusus perkumpulan anggota ROHIS SMA se Jakarta Selatan dalam rangka TOR (Takjil On the Road). Pertama kali liat video di atas, mengingatkan saya akan penyesalan terbesar yang pernah saya alami yaitu mengapa saya tidak menjadi anggota dan aktif di Rohis ketika SMA. Padahal dulu saya pernah menjadi mentor di SMA. Semoga Allah mengampuni pilihan yang saya ambil ketika itu yaitu meninggalkan rohis.

Dahulu dimata saya, Rohis itu ibarat perkumpulan anak-anak tersisihkan. Yang tidak bermain dengan kawan lainya dan hanya bermain sesama anggotanya. Maka tak jarang ketika membuat tugas kelompok di sekolah selalu tersisihkan. Masih teringat dalam ingatan saya ketika kelas 11. Ketika itu saya berada di 11 IPA B dimana dikelas tersebut, siswi yang menggunakan hijab (penutup kepala) memiliki jumlah terbanyak di banding bandingkan kelas lainya. Dan setiap membuat kelompok selalu kami yang behijab berkumpul menjadi satu, termasuk saya. Sungguh saat itu saya merasa tersisihkan. Padahal saat itu kami tidak pernah mengeksklusifkan atau memisahkan diri dengan yang lain namun selalu seperti itulah faktanya. Seolah teman lainya yang menjauh dari kami.

 XII-IPA-D
 XII-IPA-D
 
Pernah terpikirkan ‘Apakah karena kerudung ini teman-teman tidak mau berteman dengan saya?’ . Dan setiap memikirkan itu, bayangan untuk melepas kerudung selalu muncul setiap saat. Maklum, ketika SMA, jujur! Saya memakai kerudung karena di paksa oleh orangtua saya.

Sebenarnya saya sudah di ajak ibu saya memakai kerudung sejak SD. Berawal ketika saya pindah dari kampung dan akan disekolahkan di Jakarta, Ibu sudah menawarkan
‘kamu mau pakai kerudung tak?’
Jangan membayangkan memakai kerudung saat itu seperti sekarang dimana sudah banyak balita memakai kerudung tetapi zaman dulu memakai kerudung merupakan suatu hal yang tabu. Karena saya takut berbeda dari yang lain maka saya mengatakan
‘nanti bu kalo udah SMP’
Dan uniknya ketika SMP, ibu saya masih ingat dengan janji saya dan lagi-lagi saya katakan
‘nanti bu kalau sudah SMA’

Dan ketika SMA, sungguh ketika daftar sekolah bersama ibu saya. Saya takut mendapat pertanyaan seperti itu kembali dan alhamdulillah ibu saya tidak bertanya demikian. Dalam hati sudah tenang, alhamdulillah ibu lupa. Namun ketika membeli seragam sekolah si Ibu tidak bertanya pendapat saya lagi. Ia langsung memesan
‘Baju putih-putih, putih abu-abu, olahraga ukuran nya L. Bajunya lengan panjang ya’
JLEB!!! cuma bisa melotot! Cuma bisa pasrah saat Ibu bilang seperti itu. Di tambah lagi, di rumah Ibu sudah menyiapkan baju sehari-hari berupa lengan panjang dan celana panjang. Salut dengan Ibu, ketika ingin merubah anaknya itu tidak tanggung-tanggung, totalitas perjuangan.

Mencoba menerima sepenuh hati toh selama ini sudah terlalu sering mengumbar janji, apa salahnya mengabulkan keinginan orangtua di tambah lagi saya sudah baliq. Dengan mengucap Bismilah saya mencoba menjalaninya.

Namun ketakutan yang saya khawatirkan benar muncul apa adanya. Ketika saya menggunakan kerudung justru tidak ada yang mau berteman dengan saya. Hanya siswa sesama memakai kerudung dan teman yang dekat rumah saja yang mau berteman dengan saya. Mencoba tetap menguatkan hati untuk tetap berkurudung, akhirnya saya putuskan berkumpul dengan teman-teman yang menggunakan kerudung. Dari situ saya mulai mengenal hijab (pembatas) antara laki-laki dan perempuan. Sedikit agak kaget dengan kebiasaan ketika akan bertemu dengan lawan jenis itu harus menggunakan horden untuk bicara tanpa tahu mukanya seperti apa.

Lalu saya mulai mengikuti mentoring kelas 10 dari yang awalnya di pegang oleh kakak kelas kemudian di pegang oleh alumni yang sudah kuliah. Awalnya sih asyik mendengar ilmu-ilmu baru dari senior tapi lama kelamaan kok jadi horor begini. Saya dituntut untuk mentoring tambahan dihari Sabtu padahal sebelumnya selalu di sela-sela sholat jumat. Berat rasanya melangkahkan kaki untuk keluar rumah di hari Sabtu yang seharusnya untuk istirahat. Bukan hanya itu, jarak rumah saya dengan sekolahlah (Ciledug-Kemanggisan) yang semakin membuat saya malas untuk berangkat. Belum lagi saya harus setoran hapalan, amalan sunnah dan sebagainya yang membuat saya image mentor ini horor.

Apakah mereka tidak berfikir rumah saya jauh, tugas sekolah banyak, ini malah di tambahin beban. Dari situ saya memutuskan untuk keluar dari mentoring dan di tambah lagi teman-teman di luar sudah mulai memulai membuka diri untuk saya. Dari situ saya mulai mengenal dunia hedon.

Berbagai macam cara saya lakukan untuk menghindari si mentor. Dari mengganti no HP hingga mengamati tingkah laku kakak mentor. Contohnya begini di sekolah itu ada 3 tangga. Kakak mentor memiliki kebiasaan selalu naik ke kelas melalui tangga yang menuju kantin karena itu adalah tangga yang paling dekat menuju kelas saya. Karena saya tahu kebiasaan mentor seperti itu maka begitu bel istirahat saya buru-buru ke kantin melalui tangga tengah. (haduh! Bandel amat!)

Ada hal positif ketika saya mulai meninggalkan kegiatan mentoring yaitu saya menjadi lebih fokus untuk belajar. Dari belajar dengan teman, guru bahkan mengikuti bimbingan belajarpun saya lakoni. Dari situ alhamdulillah saya mendapatkan PMDK Politeknik Kesehatan jurusan Farmasi di daerah kebon Nanas kalau tidak salah. Namun dengan keyakinan hati saya putuskan untuk melepaskannya dengan alasan saya kurang berminat dengan pelajaran kimia, ditakutkan kedepannya saya akan mengalami kesulitan. Kemudian saya mengikuti SPMB dan alhamdulillah saya di terima di UNJ jurusan Fisika. Padahal kalau berdasarkan nilai Ujian Nasional dari ke enam pelajaran nilai kimia saya paling tinggi sedangkan nilai fisika terkecil. Hah~ kadang hati tidak sejalan dengan logika.

Yup, dunia kampus adalah dunia baru bagi saya. Kuliah, cabut, organisasi sudah tidak ada yang mengatur diri ini lagi. Apa yang ingin dilakukan sudah sesuka hati. Tidak ada pengawasan guru tidak ada pengawasan orangtua.

Namun bayangan UNJ buyar semua. UNJ kampus negeri namun terasa berada di pesantren especially FMIPA. Berharap lepas dari dunia rohis justru terjebak di pesantren. Maka kegiatan seperti pembinaan ruhiyah islamiyah mahasiswanyapun gencar dilakukan oleh senior-seniornya. Tidak boleh satupun kegiatan kampus yang lepas dari islam. Misalnya dari kegiatan organisasi, mau kegiatan yang bersifat islamiah atau umum bahkan tingkat nasional, tilawah quran itu tidak boleh lepas. Takhayal kegiatan semacam ini sering diperdebatkan, bahkan dengan dosen sendiri.

Tak berbeda jauh dengan SMA, kegiatan mentoring pun tetap menjadi prioritas utama kampus. Ada yang bertahan dan ada juga yang sudah gugur di awal. Biasa... kalau diajak kebaikan memang agak susah dibandingkan di ajak hura-hura.

Hingga saya pun bertemu dengan dirinya. Seorang wanita sebaya, sejurusan dan sekelas. Dia orang yang paling sabar mengajarkan islam ke saya di banding dengan murobi saya. Kebetulan murobi saya agak galak karena dari sekian binaanya saya paling bandel, jadi sering di omelin. Karena dia-lah saya bertahan dengan liqoat saya. Seiring berjalanya waktu masalah satu persatu mulai bermunculan dari masalah organisasi hingga masalah perkuliahan kumpul jadi satu. Sampai saya merasa hanya tinggal sendiri di dunia ini. Dan saat itulah saya mulai meninggalkan satu persatu mulai dari organisasi hingga liqoat. Berat memang! Di tambah lagi tidak ada yang menguatkan, termasuk dia. Usut punya usut ternyata dia juga sedang dalam masalah besar. Jauh lebih besar dari apa yang saya hadapi. Hingga akhirnya kami dipertemukan lagi walau bukan di organisasi ataupun liqo, tetapi dalam penyelesaian skripsi. Dan setelah skripsi selesai, kami menghilang bagai ditelan bumi.

Namun tak ada yang saya sesali mengenal dirinya walaupun ia sering hilang dan muncul tiba-tiba. (Lain kali saya ceritakan siapa dia dan bagaimana caranya mengenalkan islam). Darinya saya belajar islam itu tidak semenakutkan yang ada di pikiran saya. Bayangan saya begitu kamu sudah memasuki dunia islam kamu akan di kejar-kejar agar kamu bertahan di dunia islam itu.

Contohnya seperti mentoring tadi, ketika saya memutuskan untuk berhenti apa yang saya rasakan? Teror dari mentor. Telpon SMS tidak pernah berhenti sampai-sampai saya berganti nomor handphone. Darinya saya tahu mengapa mentor saya seperti itu.

“Mentor bersikap seperti itu bukan karena berharap kamu tetap bertahan dalam organisasinya. Dimana mengharuskan kamu untuk men-syiar-kan agama. Namun mereka justru lebih khawatir setelah kamu keluar dari sana bagaimana dengan ruhiyah kamu, takut kamu bisa bertahan atau malah tergoyahkan dengan lingkungan luar disana”

Dari situ saya menyesal sejadi-jadinya dengan keputusan yang saya ambil dahulu. Coba saja, saya bisa bertahan sedikit saja. Mungkin saya tidak akan menyesal seperti ini. Kemudahan yang saya dapatkan ketika di terima Universitas negeri mungkin adalah sebuah tamparan dari Allah bahwa Allah itu tidak pernah meninggalkan hambanya walaupun hambanya sendiri sudah melupakanya. Di tambah lagi Allah masih tetap mengirimkan orang sepertinya ke saya.

Ada satu pernyataan saya dahulu, yang saya sesali. Andai bisa mengubah saya sangat ingin merubahnya yaitu anak rohis itu anak-anak yang tersisihkan. Justru sekarang ini yang saya lihat anak-anak rohis itu anak-anak yang silaturahminya tidak pernah putus. Ketika awalnya jumlahnya segitu maka sampai sekarang jumlahnya akan segitu. Dibanding dengan teman-teman saya yang lain yang jumlah semakin menyusut. Entah karena rutinitas atau karena sudah tak se-visi lagi.

Justru mereka inilah (anak Rohis) yang sekarang banyak dicari orang, termasuk saya. Karena merekalah yang dapat memberi syafaat di akhirat kelak. Maka kemarin agak sedih, ketika mencoba berkomunikasi dengan teman lama hanya sedikit sekali teman yang bisa di ajak ke jalan kebaikan. Bahkan lima saja tidak sampai. Andai waktu bisa di putar kembali, saya ingin sekali kembali kemasa itu dan berkumpul bersama mereka (Rohis SMA atau teman liqoat).

Minggu, 26 Juni 2016

HOBI



Senin, 27 Juni 2016
Berhubung sudah memasuki libur panjang maka saya akan sedikit banyak bercerita kejadian-kejadian selama setahun ini.

Berbicara tentang hobi, saya masih ingat saat pertama kali memperkenalkan diri dengan siswa. Biasanya saat perkenalan, pertanyaan yang sering muncul : tinggal dimana, no HP berapa, tanggal lahir, sudah berkeluarga dan sebagainya. Namun ada satu pertanyaan yang agak sedikit berbeda ‘ibu hobinya apa?’. Hobi? Ah~ saya tidak pernah bayangkan akan mendapat pertanyaan seperti ini. Karena jujur, saya sendiri masih bingung apa yang saya sukai. Spontan aja jawab ‘nonton drama’. Hadeh... ga ada mencerminkan sifat guru-gurunya. Harusnya saya speak speak sedikit gitu, hobi membaca buku gitu kek. Hahahhahah.

Setahun ini, akhirnya saya menyadari hobi saya yaitu eksperimen. Eksperimen apa? Ya macem-macem. Dari eksperimen untuk kegiatan sekolah sampai eksperimen masakan. Bahkan untuk eksperimen sekolah saya sampai di juluki anak-anak guru tergabut. Kalau kata anak-anak, gabut itu keadaan dimana sesorang tidak ada kerjaan dan melakukan kegiatan yang tidak berguna. Hah!!! Tega bener saya di beri julukan seperti itu. Pernah saya bertanya kepada siswa.

“Emangnya kenapa? Kamu, bilang saya guru gabut?”
“Habis! Kalo ibu uda gabut, horor. Kalau ga ngisengin kita ya nambahin kerjaan kita aja!”
“Hehehhe. Maaf ya...”
Hehehe. Memang kalau saya sudah gabut paling seneng ngerjain mereka. Dari motong-motong rambut, ngumpetin earphone, ngumpetin bekel, ngambilin HP, ngelitikin siswa, nyoret-nyoret buku tulis mereka, ngelipet-lipet kertas/duit, ngelempar-lempar kertas ke anak dan puncaknya ngasih tugas mereka.
Seperti itu di bilang gabut? Padahal itu kan untuk kebaikan mereka.

  1. Motongin rambut supaya ngajarin mereka anak laki-laki itu tidak boleh gondrong
  2. Ngumpetin earphone, ngambilin HP. Hanya mengingatkan di kelas tidak boleh mendengarkan selain penjelasan guru
  3. Ngupetin bekal makanan. Hanya mengingatkan di kelas waktu belajar bukan sarapan atau makan siang.
  4. Nyoret-nyoret buku. Hanya mengingatkan supaya mencatat materi yang penting.
  5. Ngelitikin dan melempar kertas. Hanya mengingatkan di kelas itu tidak boleh tidur.
  6. Melipat kertas/ duit. Nah, kalo ini saya akui gabut beneran
  7. Ngasih tugas. Kalau ini saya hanya ingin memberi kamu pegalaman baru, toh selama ini kalau saya memberi tugas merupakan sesuatu yang belum pernah lakukan!!!

Kembali lagi ke eksperimen. Dari sekian banyak eksperimen yang sudah saya lakukan hampir semuanya gagal!!! Hanya satu yang berhasil yaitu membuat ‘MouseTrap Car’. Itupun berhasil karena saya pernah membuatnya saat kuliah. Sisanya gagal semua. Dari membuat roket air, kapal uap, sampai balon udara. Dan paling mengenang dan teringat di benak saya itu membuat balon udara.
Entah sudah berapa kali mengulang membuat balon udara dan selalu gagal.



Pertama dari penyangganya yang terbuat dari kawat ternyata keberatan beban.
(sumber : google)
(sumber : google)

Ke dua, kemudian saya ganti sedotan ternyata tidak kuat.
Ke tiga saya ganti dengan bambu yang saya sisir tipis.
Ke empat, mungkin bukan masalah penyangganya tetapi balonnya. Saya buat dari bahan plastik ternyata meleleh, mungkin karena terlalu tipis. Ingin saya ganti dengan plastik yang agak tebalan takut keberatan beban dan tidak dapat terbang.
Kelima, saya mengganti plastik dengan kertas minyak dan itu kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan. Dengan bodohnya saya melakukan di teras kelas dan masyallah (masih kebayang sampai hari ini bagaimana merindingnya saya) itu balon udara kebakar dengan api yang sangat besar dan hampir membakar sekolah. Ya Allah, saya ketakutan setengah mati karena hampir mencelakan anak dan membakar sekolah (sampai sekarang masih merinding setiap membayangkannya). Entahlah saat itu ada guru yang melihat atau tidak saya tidak tahu. Masyallah saya masih ketakutan banget.

Mencoba menenangkan hati dengan datang ke tempat bimbingan belajar. Karena bagi saya di sana adalah tempat yang nyaman ketika saya mendapat masalah dan ada orang yang bisa diajak bicara entah teman kerja atau siswa, dibanding di rumah sendirian. Dan seperti biasa tanpa memberi tahu mereka, mereka langsung tahu bahwa saya ada masalah. Mencoba menceritakan tanpa langsung ke pokok masalah dan kebetulan saat itu saya juga sedang ada masalah lain.

Saya       : “Kak, saya takut nih ka sama wakasek saya”
Ka Hari : “emangnya kenapa?”
Saya       : “Masak selama satu tahun saya satu-satunya guru yang ga pernah di tegor”
Ka Hari : “Dian-nya pernah negor gak?”
Saya       : “enggak. Habis dia orangnya gitu kak, mukanya serem... guru-guru lain aja agak segen negor dia, apalagi saya yang Cuma guru baru. Uda gitu ruangan dia ma saya kan misah, dia di ruang guru bawah saya ruang guru atas jadi jarang ketemu.”
Ka Hari : “Yah, kalo gitu mah wajar! Intensitas ketemu aja jarang, gimana pengen saling negor. Udah ga usah di pikirin. Orangnya juga pasti bingung kalau mau negor kamu musti gimana.”
Saya       : “Nah itu kak... Tadi saya habis......” saya ceritakan kronologi kejadian yang hampir membakar sekolah itu dan apa reaksi satu bimbel. Dari si kakak yang saja ajak bicara, guru bimbel lainya, siswa di bimbel. Semuanya ketawa ngakak


(sumber : google)
Semuanya : “WAKAKAKKAKAKKA”
Saya       : “Kok, pada ketawa sih???!!!^%(“
Lintang                 : “Habis kakak lucu, saya justru berharap itu sekolah kebakaran. Saya bayangin gimana paniknya sekolah trus masuk tivi dan kakak di pecat gara-gara kesalahan kakak. Hahahahha.”
Saya       : “Ah, parah!!! Tega bangetttttt!!!! Saya lagi stress tauk! Kamu begitu!”
Lintang                 : “Wakakkakakka”
Ka Hari : “udah! Udah! Wakakakaka! Lagian tumbenan ya, tang??? Dia baper-an gitu gara-gara wakasek! Wakakakkaka”
Saya       : ”Ih, Saya itu lagi pusing! Abis di tolak trus disekolah ada masalah begitu. Saya ketakutkan ka...”
Ka Hari : “Cieee di tolak kenape?”
Saya       : “ Auk! Ah! Ga asik di ajak cerita. Entar di ketawain lagi  

Dari situ saya belajar, harus lebih berhati-hati dalam bereksperimen.
Agak sedikit kapok melakukan eksperimen lagi, takut melakukan kesalahan yang sama. Cuma kalau di pikir-pikir kalau menuruti si ‘ketakutan’ kemampuan saya tidak berkembang. Dan alhamdulilah setelah itu saya memcoba membuat kapal uap dan hasilnya tetap GAGAL!!! T,T

Kedua, Eksperimen masak. Nah kalau yang ini, tidak beda jauh dengan eksperimen di sekolah. Lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Kalau untuk masak masakan yang tanpa kuah alias oseng-osengan dan lauk pauk, insyallah bisa. Cuma untuk masakan berkuah, entah mengapa tidak pernah berhasil dan hasilnya selalu menyakitkan, terbuang sia-sia dan korbanya bapak ibu adik saya. Jangankan mencicipi, melihat bentuknya saja sudah bisa nebak rasanya. Sedih T,T.

Pernah waktu itu membuat sayur sop, sayur semur bahkan bubur kacang hijau. Semuanya gagal total dan sampai tidak mau mencoba masak masakan berkuah lagi. Sudahlah biar si Ibu saja yang melakukan. Tapi kalau lauk pauk dan oseng-osengan masih mau. Hehehhehe. Sekarang kalau mencoba eksperimen masakan korbanya bukan keluarga lagi. Pengalaman aja!!! Biar ga sakit hati lagi. Nah sekarang korbanya adalah khalil-ku (sahabat) Tikpo, Aru dan Alin. Terakhir mencoba eksperimen kue lebaran.

Berawal dari Bu iin yang berjualan coklat seharga Rp 45.000 setoples. Sebenarnya agak mahal hanya untuk ukuran toples sekecil itu. Tapi ada satu yang saya suka dari Bu iin, walaupun ia berdagang seperti itu. Ia tidak pernah merasa rugi berbagi resep apa yang ia jual.

Kesan pertama mencoba coklat yang saya beli dari Bu iin agak sedikit kecewa. Ternyata coklat yang saya makan tidak full coklat. Agak sedikit chewy –tulisanya betul ga ya?- (kenyal), dalam hati ‘ah coklat oplosan nih’. Namun setelah dicicipi dengan seksama ternyata yang chewy itu adalah kurma buka coklat oplosan. Hahahha jadi malu sendiri. Ah lama-lama kok enak. Akhirnya saya coba membuat sendiri. Berikut resepnya

COKLAT KURMA

Bahan :
Coklat batangan merk cholata 2 batang (Rp 24.000)
Kurma 0,5 kg (Rp 30.000)
Kacang mede ¼ kg (Rp 32.000)
Wijen 1 ons (Rp 6.000)
Kertas kue (Rp 2.000 isi 50 lembar)

Cara membuat:
1.       Goreng kacang mede hingga kecoklatan
2.       Belah kurma dan buang bijinya. Ganti biji kurma dengan kacang mede. Lebih enak lagi medenya utuh jangan di bagi dua. Coz kata teman-teman yang sudah mencoba yang bikin kuenya enak itu saat gigit medenya. Hehhehe
3.       Lelehkan coklat diatas rebusan air mendidih
4.       Masukan kurma kedalam lelehan coklat kemudian angkat dan pindahkan ke kertas kue
5.       Taburkan wijen secukupnya
6.       Tunggu hingga coklat mengeras dan siap di masukan ke toples
  

Selamat mencoba.
Maaf saya tidak tahu dengan bahan-bahan seperti itu, jadinya berapa banyak coz setiap bikin langsung saya bagi-bagiin ke temen.hihihihihi.



#CatatanHatiSeorangGuru3
 

Sabtu, 25 Juni 2016

Selasa, 14 Juni 2016

Selasa, 14 Juni 2016

Andaikata diharuskan memilih hari terburuk selama mengajar, mungkin hari itu lah hari yang paling menyakitkan yang pernah ada. Lebih menyakitkan dibandingkan saat tangan saya memukul meja hingga berdarah hanya untuk mengatur siswa SMK. Ya!!! mereka siswa SMA yang selama ini selalu saya banggakan! entah mengapa hari itu menjadi rendah serendahnya.
Andaikata nilai ulangan yang mereka dapatkan memang benar usahanya, tentu akan membuat saya bahagia. Tapi entah mengapa perasaan mengatakan ada yang salah dengan semua ini. Maaf bukan bermaksud merendahkan atau meremehkan usaha mereka namun banyak siswa yang berkemampuan dibawah rata-rata, mendapatkan nilai hampir sempurna bahkan sempurna. Ingin mencoba mempercayai mereka namun rasa suudzon justru lebih mendominasi dengan fakta-fakta yang ada. Jangankan untuk mengingat cara pengerjaan 40 soal, untuk mengingat 5 soal pun saya yakin mereka kesulitan.

Spekulasi pun berkecamuk di dada. Ada kemungkinan mereka mengambil kunci jawaban yang ada di meja saya. Mencoba meluruskan tanpa menghakimi mereka, saya menuliskan pesan kepada mereka “ada yang ingin di sampaikan ke saya?”. Namun tak seorangpun menghadap saya. Sedih, kecewa, marah! Semua bercampur di dada. Hingga akhirnya saya kembali menuliskan pesan
“Terimakasih sudah belajar fisika dengan benar. Insyallah sudah tidak ada tagihan nilai tugas. Seandainya ada yang ingin disampaikan ke saya silakan SMS ke 08988******. JANGAN TEMUI SAYA YA. Terima kasih.”

Rasanya sudah mampu lagi melihat wajah tak bersalah mereka. Bagaimana mungkin satu angkatan tak seorangpun berani berkata jujur ke saya. Sampai suatu ketika saat pulang sekolah ada beberapa anak yang hendak bertemu dengan saya. Sepertinya anak tersebut hendak melaporkan kecurangan yang terjadi, namun karena perasaan saya sedang berantakan, sayapun menghindarinya. Hingga sayapun kecolongan tiba-tiba ada satu anak menghampiri saya yang membuat saya tak berkutik menghindarinya, ia menangis didepan saya. Jujur perasaan saya masih masih marah, masih tidak sanggup menatap wajah mereka walaupun saya tahu ia tak mungkin melakukannya. Darinya saya tahu ternyata semua berawal dari penjual jasa fotokopian. Entahlah apa yang difotokopi, entah soal entah kunci jawaban.  

Hari itu perasaan saya terasa terinjak-injak. Mencoba menguatkan hati namun nyatanya tak bisa.
Andaikata mereka tahu bagaimana perjuangan saya membuat soal, mungkinkah mereka akan seperti ini?

Dimata orang, mungkin saya tampak seperti workaholic. Bekerja di dua institusi resmi, dua bimbingan belajar dan belum lagi weekendpun saya tetap harus bekerja. Lelah? Pasti lelah!. Kejar setoran? Tidak juga!. Andaikata saya bisa berhenti, saya pasti memilih berhenti. Namun saya masih belum menemukan alasan kuat untuk berhenti. Ada yang bisa bantu saya?

Mengatur dua jadwal di dua sekolah cukup menguras tenaga dan puncaknya selalu saat ujian tengah semester ataupun ujian semester siswa. Pernah suatu ketika badan drop se derop drop nya karena begadang untuk membuat kisi-kisi soal, kartu soal dan soal ulangan untuk 5 mata pelajaran. Ingin istirahat di rumah namun kewajiban di sekolah yang memaksa saya untuk tetap bekerja. Masih teringat bagaimana lemahnya saya di depan anak-anak. Jangankan untuk menulis dipapantulis, untuk berdiri selama tiga puluh detik saja saya tidak mampu. Alhamdulillah, anak-anak mengerti keadaan saya dan akhirnya mereka membantu menuliskan soal dan tetap mengerjakan soal tanpa saya awasi.
Saat itu saya bersyukur sekali memiliki anak-anak yang patuh terhadap perintah gurunya. Bukan hanya itu, pernah suatu ketika mereka berkata perkataan kasar dan terdengar di telinga saya. Hingga saya membuat peraturan ‘satu perkataan kasar di denda 1000’. Dan amazingnya mereka konsisten dengan peraturan tersebut hingga tahun ajaran berakhir. Senang rasanya memiliki murid-murid seperti mereka. Tidak masalah, tidak mengerti pelajaran! Asalnya akhlak dan mental kemauan belajar ada, sudah cukup.


Tak sepatutnya saya menyalahkan mereka, mungkin ini juga PR saya untuk membentuk mental jujur mereka.



#CatatanHatiSeorangGuru2