Senin, 02 Januari 2017

MALANG



02 Januari 2017

MALANG

Dari semua resolusi di tahun 2016 hanya ke Bromo saja yang bisa tercapai. Sisanya???  Semoga bisa tercapai di tahun berikutnya, aminnn.

Dari seluruh rangkaian perjalanan Malang, sebenarnya perjalanan ke Bromo yang paling tidak excited. Pertama, Tour Guide nya ga asik. Kedua, aduhhhhh... itu namanya terjebak di padang pasir rasanya menyisakan trauma mendalam. Apalagi saat menuju ke bukit teletubies. Dari awalnya itu padang pasir terlihat banyak mobil Jeep dan motor tiba-tiba datang badai pasir dan menghilangkan seluruh pandangan. Sepanjang perjalanan si Tour Guidenya hanya membunyikan klakson dengan harapan tidak terjadi tabrakan dadakan. Dan yang makin membuat syok itu, walaupun Jeep dalam kondisi tertutup rapat dan didalam Jeep sudah memakai masker dan kacamata, entah gimana itu debu masih bisa masuk ke Jeep. Haaaaaa... rasanya uda pengen cepet-cepet balik ke penginapan.

Sesampainya di bukit Teletubies, saya dan Tikpo saking syoknya cuma bisa duduk di savana buat nenangin diri. Si Rini??? Aduhhhhh, saya beneran ga ngerti sama teman saya yang satu ini. Ga ada capeknya. Kita uda tepar, syok, ngantuk, capek. Eh dia masih bisa lari-larian naik ke bukit cuma buat selfie. Salut dah!!!!!! Ma miss selfie ini. Hahahhahaha. Pernah sampai suatu ketika, sudah saya tegor berkali-kali dan dia masih selfie an sendiri akhirnya saya bersama Tikpo meninggalkannya. Aduhhhh... maaf ya Rini, saya egois banget.

Rangkaian 3 hari di Malang itu : Jatim Park 2, Museum Angkot, Pantai Balaikambang, Pantai Batu Bekung, Masjid Tiban, Kelilingin Kota Malang, Bromo Tengger Sumeru Natinal Park.

Kalau menurut saya pribadi urutan Kunjungan yang paling ngena itu :
1.         Pantai Batu Bekung
Sebenarnya pantai ini tidak masuk kedalam list yang akan kami kunjungi. Karena berhubung di pantai Balaikambang sedang pasang, jadi ga ada nikmat-nikmatnya. Akhirnya kami putuskan ke pantai lain dengan harapan lebih baik daripada pantai Balaikambang. Dan ini pantai yang paling bagus yang pernah saya lihat. Sepanjang bibir pantai isinya hanya karang. Namun justru itu yang menurut saya membuat pantai tersebut nampak keindahan alaminya.
Di pantai ini jangan berharap bisa basah-basahan karena memang sepanjang bibir pantai terdapat banyak papan bertuliskan dilarang berenang dan memang ombaknya terlihat sampai setinggi 5 meter. Namun ada satu sisi pantai yang di apit dua karang besar lalu setelahnya ada seperti karang buatan (karang besar yang disusun sekitar 20 m) sehingga dapat meredam ombak yang tinggi dan cukup bisa untuk berenang.







2.         BTS National Park




























































3.         Museum Angkot
Dari namanya saya sudah tidak tertarik apa yang namanya museum. Tapi ada satu tempat namanya movie... dan itu bagus banget. Wajib kunjungi kesana.













4.         Kelilingin Kota Malang


























5.         Pantai Balaikambang
Pokoknya ke sini ga sesuai ekspetasi. Nyebelin!!! Masak lagi pasang tinggi... jadi ga bisa main pasir kan. -,-. Akhirnya cuma main pantai yang ada di belakang karang. hah! Agak sedikit menyedihkan.

























6.         Jatim Park 2
        ini sih demenannya Tikpo ma Rini. Liatin binatang.



















7.     Masjid Tiban
        yang ini juga jauhhhhhhhhhhhhhh banget ma ekspektasi saya. Namanya masjid, tapi susah banget nemuin tempat sholat. Ga taunya, masjidnya ada di deket tempat parkir. Agak sedikit menyedihkan, bagunan segede itu ga taunya pesantren dan masjidnya ada di ujung berung. ckckckckck.





Maaf ya... isinya foto saya semua.... blog saya ini. hahahah :-P



Ta'aruf



02 Januari 2016

Ta’aruf

Beberapa hari lalu secara tidak sengaja mendengarkan suatu kajian yang bertemakan ta’aruf. Biasanya setiap kajian yang bertemakan ta’aruf selalu membahas proses dan tata cara ta’aruf yang sesuai syariat, namun kajian kali ini temanya adalah simulasi ta’aruf pas nazhor. Hahahahaha. Entah bagaimana ceritanya bisa pas begitu dengan kondisi saat ini. Ya, ini sudah ke berapa kalinya saya selalu menolak hanya untuk nazhor dengan berbagai alasan yang tak masuk akal. Dari alasan yang tidak terbayang bertemu dengan orang yang sama sekali tak dikenal, lalu  tidak terbayang harus berbicara apa nanti saat bertemu sampai alasan takut baper-baperan (baik saya yang baper atau lawan yang baper, takut ada yang tersakiti). Ga enak!!! kalo yang namanya baper cuma sebelah tangan.

Dalam kajian tersebut, setiap pesertanya sudah menyiapkan CV masing-masing. Ya siapa tahu bisa ketemu disitu hahahhahah. Lalu diambil salah satu CV dari pihak ikhwan dan akhwatnya untuk di jadikan bahan simulasi. Karena sifatnya simulasi, karena itu ikhwan dan akhwatnya tidak di pertemukan secara tatap muka, lagi-lagi karena sifatnya simulasi ya...

Dari simulasi yang dilakukan ada dua hal yang dapat saya tangkap yaitu :
Pertama, ternyata CV itu yang ngebantu untuk memulai obrolan dan mencairkan suasana. Wahhhh, ternyata nazhor itu tidak semenakutkan dari apa yang saya bayangkan.

Kedua, pentingnya memilih mediator. Saya bener-bener paham, mengapa memilih mediator itu harus orang yang sudah menikah. Jangan sampai kisah Salman Al Farisi terulang di proses tersebut. (Wahh sakitnya tuh bisa di sini). Selain sudah menikah, ya baiknya mediator tersebut juga harus paham ma perannya. Kalau dari simulasi tersebut sih, mungkin ustadnya gemes ma ikhwannya karena terkesan pasif akhirnya si ustad yang mengambil alih beberapa pertanyaan ke akhwatnya. Kalau saya jadi akhwatnya, mungkin saya bakal tertarik ma ustadnya hahahhahaha. Tapi kalau kita tahu ustadnya sudah menikah, jadi mikir-mikir lagi kan buat tertarik ma ustadnya. Hahhahahaha.

Pernah pengalaman juga, ceritanya mau nyomblangin temen walaupun ga pakai CV-CV an. Intinyaa sih gemes ma dua orang ini. Dari pihak perempuan sih mau dan dari pihak laki-lakinya walaupun saya tidak pernah menanyakan langsung dari gelagatnya sih mau. Akhirnya saya yang mencoba berperan aktif. Nah ending nya, ada dari pihak luar yang tiba-tiba bilang ke saya ‘kayaknya dia maunya ma dian deh’. Wak waw!!! Salah jalur ini. Langsung saja saya cut dadakan, semenjak itu saya kapok jadi mediator, ga lagi-lagi deh.

Harapannya setelah mendengar kajian ini, semoga dwL uda berani buat nazhor. Hehehheheh. Aminn.